Live and Play

Sunday, December 30, 2018

[WOT Tank Review] Panzerjaeger I

December 30, 2018 Posted by Chief Editor , No comments

Kelebihan:

Senjata 4,7 cm Pak (t) L/43 super mantap; penetrasi bagus, daya rusak (damage) bagus, akurasi bagus.
Ukuran kecil, gampang disembunyikan.
Nilai kamuflase tinggi.

Kekurangan:

Tank kardus. Armornya tidak berguna.
Tengokan horizontal senjata terbatas.
Mobilitas pas-pasan. Malah cenderung lebih lemot daripada bentuk aslinya: Panzer I.

Ulasan

Berbicara tentang Panzerjaeger I berarti bernostalgia di hari-hari pertama saya bermain WoT. Sampai saat ini saya adalah penggemar kelas tank destroyer. Mungkin karena kelas ini memang cocok dengan gaya bermain saya: diam dan tembak.

Pertama kali saya memainkan World of Tanks tentu saya dihadapkan dengan gaya bermain light tank dan medium tank. Light tank dan medium memang banyak digunakan di tier bawah karena sebagian besar tank menarik di tier bawah berada di kelas ini. Akan tetapi, gara-gara mental sok antimainstream yang kumat, saya jadi ingin mencoba hal dan tantangan yang berbeda: memainkan tank tanpa kepala (baca: turret). Awalnya ingin mencoba SPG. Namun, batal karena setelah meneliti spesifikasi SPG-SPG tier bawah yang aneh-aneh. Akhirnya, pilihan jatuh ke kelas tank destroyer.

Saya tertarik memainkan kelas tank destroyer karena tank-tank kelas ini mempunyai keunikan tersendiri seperti kebanyakan tanpa turret, senjatanya lebih ampuh daripada tank biasa, dan nilai kamuflasenya yang tinggi.

Tank destroyer pertama yang pernah saya mainkan di permainan ini adalah Panzerjaeger I. Dalam catatan militer Jerman Nazi, nama lengkapnya adalah 4.7 cm PaK(t) (Sf) auf Panzerkampfwagen I ohne Turm. Panjang memang, makanya banyak orang yang lebih senang menyebutnya Pzjg I.

Panzerjaeger I adalah definisi klasik tank destroyer di masa-masa awal Perang Dunia II: sasis kompak, mesin pas-pasan, senjata mantap, tapi tanpa turret. Ukuran kecil tank ini membuatnya mudah disembunyikan di balik semak dan memiliki nilai kamuflase yang sangat tinggi. Ini sangat penting untuk diketahui karena tank ini memang tidak bisa dimainkan untuk tempur berhadapan langsung.

Lapis baja (armor) tank ini sangat-sangat tipis sehingga satu pukulan dengan peluru HE (high explosive) sama dengan wassalam. Maka dari itu, sekali lagi ingat, jangan bawa tank ini ke garis depan. Cari PA (posisi aman) dan PW (posisi wueenak). Bersembunyilah di balik semak. Incar tank-tank yang lewat dengan lengah. Karena penetrasi tank ini bagus untuk tier II, incar tank berbahaya misalnya yang beramor keras (tapi kecepatan lambat) atau tank satu tier di atasnya kalau ada. Tapi ya itu tadi, jangan sampai ketahuan. Sekali posisi Panzerjaeger I ketahuan, dia akan menjadi priority target untuk diincar musuh karena tiga alasan: senjata berbahaya, armor tipis, gampang dibunuh.

Grinding tank ini mudah sebenarnya. Yang sulit adalah pembiasaan gaya bermain. Tank ini memang dirancang untuk mendidik dan mengubah mind-set pemain yang biasanya menggunakan tank konvensional menjadi pemain tank destroyer klasik tanpa turret. Kita dididik untuk cerdik membaca peta, pintar membaca situasi pertempuan, sabar, dan cermat.

Mekanisme permainan (game mechanics) yang harus kita pahami betul ketika bermain tank destroyer adalah mekanisme spotting dan camouflage. Kita harus bisa mengeksploitasi kedua aspek ini agar bisa menjadi ninja sepanjang permainan. Kalau tidak bisa membiasakan hal-hal ini, then no hope for you for playing TDs and go back to your lights, mediums, or heavies.

Membelanjakan kredit untuk membeli equipment untuk tank ini sebenarnya hal yang tidak perlu karena tank ini berada di Tier II dan saya yakin kalau kalian bisa memainkan tank ini dengan baik, kalian bisa membuka Marder II di Tier III dengan cepat. Jadi, untuk apa membeli equipment.

Akan tetapi, kalau toh kalian memang berniat menyimpan tank ini di garasi dan membelikannya equipment, kalian bisa mencoba camo net dan binocular. Cukup dua equipment agar tank ini tidak menjadi berat dan mengurangi mobilitasnya terlalu banyak. Maklum, kapasitas tenaga mesinnya kecil jadi penambahan equipment tentu berpengaruh pada kelincahan geraknya.

Friday, December 7, 2018

[Puisi] Eosophily

December 07, 2018 Posted by Chief Editor , No comments
Eosophily

The dawn knows better
about how many kilometers
that i've trailed
among the mild
of mist and cloud
and dews perched
on the nib of leaves
which I adore the clarity
as if you accompany me
to find that piece
of felicity
near you and about you.

[Bdg, 12/7/2018]

[Puisi] Rumah Tanpa Meja Makan

December 07, 2018 Posted by Chief Editor , No comments
Rumah Tanpa Meja Makan

Aku benci rumahku
yang tak punya meja makan
sedari bocah makan tak bermeja
kutanya pada ibu,
bilangnya, makanya belajar kau yang betul
supaya pintar kau
nanti kalau pintar kau punya uang
beli sana meja makan sendiri

Tapi ternyata kurajin belajar
sampai lulus cum laude pun
kini kerjaku cuma bisa bawa uang
lebih murah dari setoran tukang parkir
depan kampus.

Dia sudah bisa bangun koskosan;
aku tetap tak punya meja makan.

-- Bandung, 8/4/2018

[Puisi] Lewat Isya, Kala Itu

December 07, 2018 Posted by Chief Editor , No comments
Lewat Isya, Kala Itu

Aku ingin berbisik
mengucap kata sayang
pada malam tanpa bintang
yg diusik derik jangkrik
sayupsayup kelontang gerobak
tukang nasi goreng
dan harum kembang melati
yang ditanam kakek pada taman kecil
di balkon depan kamar
pun gaung deru loko diesel
yang singgah di stasiun sana
lalu membunyikan klaksonnya

Bandung kala itu begitu sepi

-- Bandung, 12/7/2018

[Puisi] Para Penyintas Badai

December 07, 2018 Posted by Chief Editor No comments
Para Penyintas Badai

Gelisah seminggu pecah sudah,
anginnya lepas, mengapungkan langkah
ringan tanpa beban
tapi tidak hampa, bernas
berkelontangan dalam gaduh
kita kembali gegap gempita

Yang kemudian harus merelakan air mata
tahu bahwa kita tak lagi bersama
ada jalan yang harus ditapaki berbeda

Semoga waktu baik pada kita.

[Puisi] Telat Subuhan

December 07, 2018 Posted by Chief Editor , No comments
Telat Subuhan

Pagi disambut hujan lebat
jangan tanya dingin atau tidak
pukul setengah lima lewat
bulu kaki pun menggigil tegak
Azan datang terlambat
atau mungkin telingaku yang pekak
seperti lobangnya tutup disumbat
deru rinai menderas lalu lebat

Ah itu sih akunya saja yang pemalas.
Powered by Blogger.