Ada yang tahu BSM? Bagi generasi muda angkatan awal milenium alias 2000-an pasti tahu mal paling terkenal di Bandung Timur ini. Ketika hampir semua mal besar dibangun di pusat kota Bandung, BSM menjadi satu-satunya mal besar dan terbilang elit di kawasan Bandung Timur.
BSM adalah singkatan dari Bandung Super Mal. Sejak dibukanya pada 2001, BSM adalah salah satu tempat nongkrong anak muda yang populer. Populer karena penampakan gedung dan tata lokasinya yang keren, adanya berbagai tempat belanja dan jajan yang elit, plus sering pula ada event yang cukup besar digelar di lapangan parkirnya yang lumayan luas. Sebelum digusur menjadi arena bermain, BSM juga pernah menjadi “terminal” bus Primajasa dengan trayek khusus Bandara Soekarno-Hatta - Bandung.
Saya sendiri sempat sering main ke BSM. Biasanya saya ke BSM karena dua hal. Pertama, ketika diajak jalan-jalan dengan teman dari sekolah maupun dari sekolah lain, kami menjadi BSM sebagai titik kumpul. Jalan-jalannya sih di tempat lain, yang penting ngumpul dan nongkrongnya di BSM dulu, he-he-he. Kedua, saya ke BSM jika kebetulan orang tua datang berkunjung ke Bandung. Maklum, sebagai anak “impor” dari pulau seberang, saya biasanya baru bisa jalan-jalan ke tempat elit ketika ortu datang.
Saya sendiri terakhir ke BSM alias TSM pada pertengahan 2011, tepat sebelum terminal bus Primajasa trayek Bandara Soekarno-Hatta itu dipindahkan ke Pasar Modern Batununggal. Kalau tidak salah, saat itu saya mengantar ayah ke terminal bus Primajasa yang akan berangkat ke bandara. Beliau baru saja berkunjung ke Bandung dan akan kembali ke Mamuju via penerbangan Jakarta-Makassar lalu lanjut bus malam 450 kilometer.
Para generasi muda 2000-an, yang kini pasti sudah menjadi generasi bapak-bapak dan ibu-ibu muda pasti kenal nama BSM. Namun bagi generasi sekarang, BSM mungkin lebih dikenal dengan nama TSM alias Trans Studio Mall. Ya, mal yang pernah menjadi ikon Bandung Timur ini kini menjadi ikon kota Bandung, sejak dirombak dan dibuka kembali pada pertengahan 2012 sebagai arena bermain dalam-ruangan (indoor) terbesar di Indonesia. TSM sekarang memiliki arena taman bermain, masjid yang keren, dan hotel bintang lima besar dengan kapasitas ratusan kamar.
Akan tetapi, di balik kemegahan gedung hotel bintang lima, arena bermain, dan mal itu, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa BSM atau TSM sebenarnya agak “horor”. Ada banyak alasan mengapa saya katakan demikian dan alasan-alasan ini sebenarnya sudah menjadi rahasia umum bagi mereka yang tahu pembangunan BSM, atau pernah merasakan sendiri kehororannya.
Pertama, sebagian lahan yang dipakai membangun BSM adalah bekas gusuran makam. Tidak semua makam karena sebagian masih tersisa di daerah belakang TSM kini. Kedua, berhubung lahannya bekas tanah pemakaman, banyak orang yang mengaku pernah mengalami hal-hal aneh di sekitar BSM. Salah satunya cerita yang akan saya sampaikan berikut.
***
Malam itu, di pengujung bulan November 2009, selepas minggu ujian tengah semester, aku, Ninda, Hendi, dan Noni berencana menghabiskan malam minggu dengan menonton film di bioskop. Kami berempat adalah mahasiswa tingkat dua di salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Bandung. Akan tetapi, kampus tempat kami berkuliah bukan di Kota Bandung, melainkan di Jatinangor. Ninda adalah pacarku; kami berbeda jurusan tapi masih satu fakultas. Hendi adalah teman sekosanku yang berkuliah di fakultas yang sama dengan Noni.
Kami berangkat dari Jatinangor selepas magrib dan kami tidak menyangka bahwa kemacetan Bandung di Sabtu malam ternyata luar biasa. Awalnya kami berencana menonton film yang tayang selepas isya. Sayangnya, karena habis waktu di jalan kami tiba terlalu malam di BSM. Ketika membeli tiket pun, kami hanya kebagian jadwal paling malam, yang baru mulai pukul 22.00. Ini berarti kami akan pulang lewat tengah malam.
Awalnya kami ragu karena jadwal itu terlalu malam, terutama Noni yang menolak. Namun pada akhirnya, mengingat kami sudah kadung datang jauh-jauh dari Jatinangor dan Ninda pun menyetujui, Noni pun setuju. Kami membeli empat tiket untuk jadwal paling malam.
Setelah bermain di arena bermain mal kemudian mengisi perut di restoran ayam cepat saji, kami kembali ke area bioskop. Kami berpapasan dengan beberapa orang yang beru pulang menonton. Ketika kami melihat ke sekeliling, tidak banyak orang yang menunggu giliran. Jelas, nonton tengah malam tidak semua orang menyukainya. Tapi setidaknya kami bersyukur karena ternyata masih ada orang pula yang menonton bersama kami. Kami duduk di sebuah bangku panjang lalu lanjut mengobrol.
Pukul sepuluh kurang lima belas menit, suara mbak-mbak memberi pengumuman bahwa penonton film pukul 22.00 dipersilaka masuk ke studio. Kami pun bangkit dari bangku kemudian berjalan studio yang dimaksud. Ruangannya besar. Para penonton yang lain pun satu per satu masuk dan duduk di tempat masing-masing.
Tidak lama kemudian lampu dimatikan. Film pun diputar. Sepanjang film dimainkan, kulihat Ninda seperti tidak begitu bersemangat, mungkin karena dia lelah atau mengantuk. Dia belum pernah nonton bioskop dengan jadwal semalam ini. Sebaliknya Hendi dan Noni rupanya penuh perhatian pada film yang sedang diputar.
Satu jam empat puluh lima menit berjalan, film pun selesai. Lampu studio kembali dinyalakan. Mataku silau karena tiba-tiba mendapat cahaya terang setelah berjam-jam dalam kegelapan. Kulihat Ninda ternyata sudah pulas bersandar di kursinya.
Kuguncang bahunya lalu berkata, “Nin… Nin… Bangun yuk, filmnya udah beres.”
Dengan "wajah bantal"-nya, ia pun membuka mata lalu berkata, “Lho, udah beres…”
“Kok pake, ‘lho’. Kamu yang molor pulas begitu,” balasku menggodanya.
Kulihat Hendi dan Noni pun sudah berdiri dan keluar dari studio. Kami pun mengikutinya. Langkah mereka agak cepat, seperti terburu-buru. Mau ke mana sih, pikirku. Santai sajalah …
Namun begitu, seolah bisa membaca komentarku di dalam hati, tiba-tiba Hendi berkata, “Yuk ah, langsung pulang, agak dipercepat.”
“Bentar Hen, aku mau ke WC dulu ya. Kebelet nih,” balas Ninda.
Namun begitu, sambil berjalan agak cepat di selasar mal, Noni kemudian menyela, “Nggak Nin, nanti aja ke WC-nya. Kita pulang dulu aja.”
“Aah, aku kebelet Non, masa iya harus nahan pipis sampai Nangor?”
“Ya nggak usah ditahan sampai kosan juga. Nanti aja di pom bensin kek, atau di mana kek, asal jangan di sini,” kata Noni sambil berjalan agak cepat.
“Emangnya kenapa sih?” tanyaku penasaran.
“Nanti aja ceritanya di mobil,” jawab Hendi.
“Enggak ah Non, aku ke WC di sini aja ya!” Ninda menunjuk sebuah lorong ke arah toilet yang akan kami lewati.
Ninda pun berlari kecil ke dalam lorong menuju toilet, meninggalkan kami, di mulut lorong.
“Nin, Ninda!” panggil Noni, tapi tidak digubris.
“Egi, sana temenin si Ninda gih!” perintah Hendi.
“Ya masak iya gue masuk ke WC cewek, Hen,” protesku.
“Ya nggak usah masuk ke dalam WC-nya kali. Tungguin aja di pintu depan WC-nya.”
“Emang kenapa sih?”
“Udah sana buruan!” Hendi mendorongku masuk ke lorong toilet.
Aku pun berjalan sampai ke depan pintu toilet perempuan lalu berdiri menyandar ke dinding tepat di sebelah pintu ruang toilet perempuan. Di balik pintu itu adalah ruang besar yang terdapat bilik-bilik WC perempuan. Mungkin karena suasana sepi dan hanya ada Ninda yang menggunakan toilet saat itu, aku bisa mendengar deru air yang mengocor dari keran dan ditampung oleh ember plastik.
Tidak lama, kudengar suara air mengalir itu berhenti. Dan hanya beberapa detik kemudian, tiba-tiba pintu WC itu terbuka dan Ninda keluar dari toilet.
“Udah pipisnya?” tanyaku. Ninda mengangguk. “Yuk, atuh, pulang.”
Aku menarik tangannya.
Tetapi, aku merasa aneh. Kok tangan Ninda dingin banget. Apa mungkin karena kelamaan di ruangan studio yang ber-AC? Memang tadi AC-nya kurasakan terlalu dingin. Atau mungkin bisa jadi karena baru dari toilet dan terkena air.
Aku menggandeng Ninda kemudian berkumpul lagi dengan Hendi dan Noni. Kami bertiga menyusuri selasar mal yang sepi. Semua toko sudah tutup. Lampu pun hanya dinyalakan seadanya. Kami turun melalui eskalator yang sudah dimatikan. Suasana atrium mal yang luas kukira tidak begitu seram, ternyata sebaliknya. Gelap. Orang-orang yang menonton bersama kami tadi sudah pergi duluan. Tinggal kami berempat yang masih berada di dalam mal, sepertinya.
Keluar dari pintu mal, kurasakan udara malam Bandung yang begitu dingin. Kami cepat-cepat berjalan ke arah mobil. Aku duduk di kursi pengemudi, Ninda duduk di sampingku; Hendi dan Noni duduk di kursi belakang.
Ketika aku menyerahkan karcis dan membayar tiket parkir di pos keluar parkir, ada hal yang aneh. Saat si petugas penjaga pos parkir akan menyerahkan uang kembalian parkirku, kulihat ia sempat menatap ke arah Ninda yang duduk di kursi penumpang mobilku. Ia menatapnya agak lama, mungkin sekitar 10 detik, sampai kutegur, “A’, kembalian saya …. A’?”
Lalu dengan ekspresi seolah baru sadar dari melamun, ia sempat bergeleng kecil, kemudian mengambilkan uang kembalian dan menyerahkannya kepadaku.
Tetapi, sebelum aku menginjak pedal gas, kudengar ia sempat berkata, “A. hati-hati di jalan ya.”
Lho, memangnya ada apa? Tumben juga ada petugas pos parkir yang memberi imbauan berhati-hati di jalan. Tetapi betul juga sih, kami diimbau supaya berhati-hati, mungkin karena sekarang sudah malam dan khawatir kami mengantuk atau ada kendala di jalan.
“Iya, nuhun,” jawabku sekadarnya.
Mobilku meluncur dari pintu keluar BSM. Belum lama, Noni berkata, “Gi, nanti kalo ada pom bensin, kita singgah dulu, ya. Aku pengen pipis nih, kebelet juga dari tadi.”
“Ih, bukannya tadi bareng Ninda sekalian ke toiletnya,” jawabku.
“Ah, nggak mau, ah. Si Ninda aja berani-beraninya, aku mah ogah.”
“Lho, emangnya kenapa?” tanyaku.
“Kamu mah nggak tahu ceritanya sih, ya?” balas Noni. “BSM itu angker tahu, kalau malam. Udah banyak orang yang ngalamin hal-hal aneh pas di BSM malam-malam, apalagi kalau pulang nonton midnight kaya tadi.”
“Oh ya, aku nggak tahu tuh.”
“BSM itu ‘kan dulunya tanah kuburan, Gi,” kini Hendi yang berceletuk.
Deg! Ah, masa sih, aku baru tahu, dalam hatiku terkejut.
“Iya, suka banyak yang ngeliat penampakan gitu di mal atau di pelataran parkirnya kalo pulang midnight. Karyawan yang shift malam juga katanya sering ketemu sama yang aneh-aneh,” tambah Noni.
“Kalian tuh bukannya ngomong dari tadi,” kataku.
“Ya, masa ngomongin yang kaya gitu di tempatnya. Ntar sompral, datang beneran, gimana?” jawab Noni.
Lantas, aku bertanya pada Ninda yang tadi ke toilet sendirian. “Nin, tadi di WC lihat yang aneh-aneh nggak?”
Kulihat Ninda diam sepanjang perjalanan, tatapannya lurus dan seperti kosong ke arah depan. Mungkin dia lelah atau masih mengantuk karena kubangunkan pas film selesai.
“Nggak,” jawabnya singkat.
Kuperhatikan wajahnya yang samar tampak agak pucat.
“Kamu nggak apa-apa, Nin? Kok mukamu kayak nggak sehat, ya? Sakit?” tanyaku.
“Nggak, apa-apa, A,” jawabnya sambil menoleh pelan. Lalu, kembali menatap ke arah jalan. Kini kepalanya menyandar ke pintu mobil sebelah kiri. Mungkin dia mengantuk.
Sampai di perempatan Samsat Soekarno-Hatta, aku berbelok ke kiri, kemudian mendapati sebuah pom bensin. Aku membelokkan mobil ke pom bensin tersebut kemudian parkir di dekat WC-nya. Noni pun turun. Aku juga turun. Hendi dan Ninda tidak ikut.
“Aku ke WC juga, ya,” kataku pada Ninda. Ia hanya mengangguk sambil tetap bersandar ke pintu mobil.
Setelah buang air kecil, ponselku tiba-tiba berdering. Sambil menunggu Noni yang belum keluar dari bilik toilet, aku merogoh ponsel di saku celana.
Kulihat dari layar ponsel, ada nama Ninda muncul sebagai identitas pemanggil. Lho, ngapain dia menelepon segala. Kalau mau bicara ‘kan tinggal keluar dari mobil. Aneh.
Aku pun iseng mengangkat panggilannya sambil berjalan ke arah mobil. Namun apa yang kudengar selanjutnya, tidak pernah bisa kupercaya dan kulupakan sepanjang hidupku.
“Egiiii! Kamu ke manaaaa! Jahat kaliaaaan! Ngapain kalian tinggalin aku sendirian di WC mal sepi begituuuu!!! Udah gitu di-SMS nggak dibales-bales, ditelepon juga nggak diangkat-angkat! Jahat kamu! Kalian di mana sekarang!!! Disusul ke parkiran mobil udah nggak ada! Huu huu huu …. ” itu jeritan suara Ninda yang panik, kemudian diikuti isak tangisnya sesenggukan. Dia menangis sejadi-jadinya di telepon.
What?? The f--- ….How ….
Kok ….
Setelah mendengar umpatan kekesalan Ninda di telepon dan sekarang menangis sesenggukan, langkahku berhenti. Di situ, otakku berusaha mencerna dan memahami situasi ini dengan logikaku, yang sayangnya berhenti pula. Aku tidak paham.
Kenapa Ninda menelepon bahwa aku, Hendi, dan Noni meninggalkannya sendirian. Kami bertiga bersama Ninda sudah pulang. Aku yang menemaninya dari toilet. Kami sudah di mobil bersama-sama. Ia duduk di kursi penumpang sebelahku sepanjang perjalanan ….
Akan tetapi, ini jelas suara Ninda, dia kembali memanggil-manggil namaku, dengan nada kesal campur sesenggukan, memintaku untuk menjemputnya di parkiran BSM.
Kalau benar yang ditelepon sedang mengamuk dan menangis ini Ninda, berarti … yang di mobil itu … siapa?
Aku pun langsung berlari ke arah mobil kemudian membuka pintu penumpang. Dan … tidak ada siapa-siapa di situ.
Aku kemudian berkata pada Hendi, “Hen, si Ninda ke mana?”
Hendi pun bingung.
“Iya, Ninda ke mana?”
“Ke mana gimana?”
“Ninda ke mana, Hen?”
“Nggak tahu, Gi. Tadi kan dia duduk di depan.”
“Iya, sekarang dia ke mana?”
Hendi diam. Matanya menatapku. Dahinya berkernyit. Wajahnya benar-benar bingung. Tidak paham situasi.
Aku pun bertanya lagi, “Tadi dia ngomong nggak sama kamu waktu keluar dari mobil?”
“Nggak, Gi. Nggak ada yang keluar dari mobil setelah kamu sama si Noni,” jawabnya.
“Lah, terus ini si Ninda ke mana? Yakin lo si Ninda nggak keluar dari mobil?”
“Sumpah, Gi. Ngapain gue bohong?” balasnya dengan ekspresi jujur.
“Nah, terus ini gimana … si Ninda kan tadi di sini, naik mobil, bareng sama kita. Tapi …” aku tidak bisa melanjutkan kalimat.
“Tapi kenapa?” Hendi bingung.
“Ini dia malah nelepon gue, dia nangis-nangis, suruh kita balik ke BSM. Dia bilang kita ninggalin dia sendirian di dalam mal.”
Mendengar itu, Hendi membelalak, kemudian berkata, “Jangan-jangan … yang tadi ikut bareng kita itu …. Bukan Ninda?”
Mendengar itu, aku pun lemas. Kakiku gemetar. Apa benar yang tadi bersama kami itu bukan NInda? Apa benar gadis yang kugenggam tangannya dari toilet mal dan duduk di kursi penumpang sampingku itu tadi bukan Ninda?
Kulihat panggilan dari Ninda sudah selesai. Kulihat ada pemberitahuan 6 pesan singkat di layar ponsel.
Dan tiba-tiba dari belakangku Noni pun berteriak, “Egi! Jahat kamu, ninggalin di toilet sendirian!!”
Aku tidak menggubrisnya.
Aku bingung. Aku lemas. Aku pun jongkok di aspal parkiran pombensin lalu menyandar ke pintu kursi penumpang mobil. Hendi keluar dari pintu belakang.
Noni yang tampak bingung bertanya kenapa, lalu Hendi menjelaskan situasinya. Setelah mendengar cerita Hendi, Noni menutup mulutnya, matanya mendelik, lalu merebut lengan kiri Hendi dan mendekapnya erat-erat. Jelas ekspresi ketakutan muncul di raut wajahnya.
Hendi kemudian bertanya padaku, “Yuk, Gi. Kita jemput Ninda dulu di BSM.”
Aku tak menjawabnya.
“Kamu masih bisa nyetir nggak? Kalau nggak bisa sini biar aku yang bawa mobilnya,” kata Hendi sambil mengulurkan tangan kanannya mengajakku berdiri. Mendengar itu, dengan setengah sadar, kuserahkan kunci mobil ke Hendi.
Hendi membantuku berdiri. Lututku masih gemetar. Pandanganku nanar. Sempat kudengar Noni menegurku agar tidak melamun. Mereka kemudian mendudukkanku di kursi belakang. Noni ikut duduk di kursi belakang. Hendi menyalakan mesin mobil, kemudian pergi dari pom bensin. Kami harus memutar agak jauh di jalan Soekarno-Hatta karena memang hanya sedikit putaran di jalan raya itu. Hendi memang bisa menyetir mobil, tetapi dia tidak punya SIM. Namun begitu, aku sudah tidak peduli lagi. Yang penting kami bisa menjemput Ninda. Aku tidak bisa menyetir. Kaki dan tanganku masih lemas. Mungkin shock.
Sampai di BSM, Hendi memarkirkan mobil di luar pagar. Ia kemudian menelepon Ninda. Setelah menutup teleponnya, ia berkata, “Ninda nunggu di pos satpam yang sebelah sana,” sambil menunjuk ke arah pintu keluar. Ia kemudian menyalakan lagi mesin mobil lalu bergerak ke pos satpam.
Di pos satpam, ia mengobrol sebentar dengan para satpam yang menemani Ninda. Ia pun keluar pos sambil berterima kasih kepada para satpam.
Ketika Ninda masuk ke mobil, ia duduk di kursi depan. Ia kemudian melihat ke arahku. Aku yakin dia sebenarnya mau mengamuk lagi, tetapi melihat keadaanku yang lemas. Dia mengurungkannya.
Selanjutnya, Hendi kembali menyalakan mobil dan membawa kami semua kembali ke Jatinangor. Sepanjang perjalanan terakhir malam itu, kami berempat diam seribu bahasa
Tidak ada yang berani membahas peristiwa yang terjadi pada kami malam itu. Pengalaman mengerikan itu, selamanya menjadi kenangan kami. Seingatku kami hanya sekali-kalinya membahasnya, setelah itu tidak pernah lagi. Dan kami tidak tahu apakah salah satu dari kami pernah menceritakannya kepada orang lain atau tidak. Itu hak masing-masing. Termasuk percaya atau tidaknya kalian, para pembaca, terhadap ceritaku ini.