Live and Play

Sunday, May 5, 2019

Menebak Kepribadian dari Golongan Darah

May 05, 2019 Posted by Chief Editor No comments
Siapa yang tidak tertarik mengetahui kepribadian seseorang? Apalagi kalau orang yang ingin kita ketahui kepribadiannya itu adalah orang yang kita sukai alias kecengan. Mungkin ada di antara kita yang seringkali merasa penasaran pada sifat dan kepribadian seseorang yang kita sukai.

Sebenarnya untuk mengetahui kepribadian orang yang menjadi target pengecengan, bisa saja kita bertanya kepada orang lain yang dekat dengan orang tersebut. Namun karena seringkali merasa malu untuk bertanya, sebagian besar orang hanya bisa menebak-nebak, karena lebih mustahil lagi kalau bertanya langsung dengan orang yang bersangkutan.

Untuk menepis rasa penasaran seperti itu, tidak sedikit orang yang mencari jawaban tentang kepribadian orang yang disukai melalui cara yang cenderung tidak ilmiah. Beberapa orang berusaha membaca kepribadian orang lain melalui zodiak, tanggal lahir, atau warna favorit. Namun begitu, orang Jepang rupanya punya cara yang lebih unik.

Ketsueki gata seikaku bunrui (血液型性格分類) atau klasifikasi karakter berdasarkan golongan darah adalah hal yang populer di Jepang. Klasifikasi karakter berdasarkan golongan darah bermula dari penelitian Takeji Furukawa, seorang profesor di Tokyo Women's Teacher's School. Ia memublikasikan karya ilmiahnya yang berjudul "Studi Temperamen Berdasarkan Golongan Darah" di jurnal psikologi ilmiah pada tahun 1927.

Takeji Furukawa

Studi yang dilakukan oleh Furukawa sebenarnya banyak dikritik oleh psikolog Jepang kala itu. Alasannya, metode yang digunakan oleh penelitiannya tidak sepenuhnya benar sehingga hasil penelitiannya dianggap tidak valid. Di awal dekade '30an, teori Furukawa dilupakan.

Selanjutnya, pada dekade 1970-an, seorang penulis berlatar belakang pendidikan teknik, Masahiko Nomi menerbitkan buku yang mengusung gagasan yang sama dengan Furukawa, yaitu adanya pertalian antara golongan darah dan kepribadian seseorang. Kali ini, Nomi menyajikan berbagai data dan statistik agar lebih meyakinkan.

Toshitaka Nomi


Namun begitu, lagi-lagi para psikolog di masanya mengkritik tulisannya. Teori-teori Nomi dianggap tidak kredibel karena dia bukan berlatar pendidikan medis ataupun psikologi sehingga tidak memiliki dasar yang kuat dalam penelitian kepribadian. Selain itu, metode penelitian dan penyusunan teorinya tidak dianggap valid.

Meskipun demikian, dasar-dasar teori kepribadian berdasarkan golongan darah yang dicetuskan Nomi ternyata populer di masyarakat. Bukan hanya orang Jepang yang gandrung dengan teori ini, tetapi juga negara-negara tetangganya, terutama Korea Selatan. Sampai saat ini, anak dari Masahiko Nomi, Toshitaka Nomi, terus mempromosikan teori kepribadian golongan darah ini. Toshitaka juga menjalankan Human Science ABO Center (ヒューマンサイエンス ABOセンター).


Teori kepribadian berdasarkan golongan darah ini rupanya bukan saja menjelaskan tentang kepribadian seseorang. Saat ini, teori kepribadian berdasarkan golongan darah juga sering dipakai sebagai referensi kecocokan hubungan percintaan seseorang dengan orang lain. Orang-orang bisa memperkirakan apakah si X yang bergolongan darah A bisa cocok dengan Y yang bergolongan darah AB atau tidak, bagaimana kemungkinan kehidupan mereka bersama, apa kendala hubungan, bagaimana cara mengatasi, dan sebagainya.

Majalah-majalah yang terbit di Jepang dan Korea Selatan seringkali menayangkan profil tokoh populer atau selebritas. Di tiap profil ini tidak hanya dipaparkan nama lengkap, tanggal lahir, atau hobi, tetapi juga lengkap dengan golongan darahnya. Kini, bukan hanya di majalah, di artikel Wikipedia berbahasa Jepang pun, melakukan hal yang sama. Cobalah buka satu halaman yang menampilkan profil selebritas atau tokoh populer Jepang. Di kotak profil yang biasanya terdapat di pojok kanan atas laman tersebut akan muncul keterangan golongan darah.

Sampai saat ini, psikolog di Jepang sendiri banyak yang menyangsikan kebenaran teori kepribadian berdasarkan golongan darah. Namun begitu, kepercayaan terhadap teori ini luas dan dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat Jepang, mendasari berbagai pemikiran dan tingkah laku (sebagian dari) masyarakatnya. Jadi, bisa dikatakan bahwa teori kepribadian berdasarkan golongan darah ini adalah mitos yang hidup di dalam ranah budaya populer masyarakat Jepang.

Berikut ini beberapa deskripsi kepribadian berdasarkan golongan darah tersebut.

Tipe A

Orang dengan golongan darah A adalah orang yang pandai, bersemangat, sensitif, dan kooperatif. Namun begitu, mereka mungkin terlalu sensitif tentang hal-hal yang berbeda. Misalnya, mereka sangat peduli dengan etika dan standar sosial. Mereka tidak suka melanggar aturan yang ditetapkan pada etiket atau standar atau aturan sosial yang ditetapkan.

Orang-orang dengan golongan darah A memiliki kekuatan mental di dalam dirinya yang membuatnya tetap tenang dalam krisis sementara orang lain panik. Akan tetapi, mereka selalu berusaha menghindari konfrontasi dan seringkali merasa tidak nyaman ketika berada di antara banyak orang. Mereka setia, sabar, dan mereka cinta damai.

Orang Tipe A pada dasarnya pemalu dan tidak ingin berada di depan. Mereka selalu mencari ketenangan dan sangat sopan. Orang Tipe A juga adalah orang yang bertanggung jawab. Mereka menyusun kesuksesan setahap demi setahap dan selalu perfeksionis dengan pekerjaannya. Mereka juga kreatif dan paling artistik di antara tipe-tipe lainnya. Ini mungkin karena kesensitifan mereka yang cukup besar.

Tipe B


Nomi (2007) mendeskripsikan orang bergolongan darah B sebagai orang yang sangat cinta kebebasan. Mereka adalah kelompok orang yang tidak bisa dikekang, tidak nyaman dengan formalitas, seringkali melupakan etika dan kesopanan, serta segala hal yang berbau aturan, birokrasi, sistem, dan sebagainya. Maka dari itu, meskipun orang bergolongan darah B juga tidak banyak, kehadiran mereka seringkali lebih menonjol daripada kelompok golongan darah lain.

Namun begitu, sifat yang kerap menentang kebiasaan atau antimainstream ini membuat orang bertipe B memiliki potensi yang besar untuk membuat inovasi. Dalam berbagai bidang, mereka mampu melakukan hal hebat dengan cara yang tidak biasa. Sebagai ilmuwan, mereka bisa menciptakan gagasan yang radikal namun masuk akal. Sebagai seniman, mereka dapat menghasilkan mahakarya yang benar-benar unik namun artistik.

Orang-orang dengan golongan darah B adalah orang yang paling praktikal di antara yang lainnya. Mereka biasanya ahli (atau ingin menjadi ahli) dalam hal yang mereka kerjakan. Ketika mereka memulai suatu pekerjaan, mereka akan meluangkan waktu ekstra untuk memahami dan mengikuti langkah-langkah yang diperlukan. Ketika mereka melakukan sesuatu, konsentrasi mereka tercurah sepenuhnya pada pekerjaan tersebut.

Jika mereka sudah menetapkan tujuan, mereka akan mengerjakannya hingga selesai, bahkan jika hal itu tampaknya mustahil. Kadang-kadang mereka sulit diajak bekerja sama karena selalu ingin mengerjakan sesuatu berdasarkan ide, cara, dan metode mereka sendiri. Inilah yang membuat orang bergolongan darah B sering dianggap individualis. Mereka juga seringkali tidak cocok ketika harus bekerja dengan tim.

Sifat baik dari orang bergolongan darah B adalah punya rasa ingin tahu yang tinggi, santai, bermental kuat, petualang, kreatif, bersemangat, aktif, dan ceria. Namun begitu, sisi negatifnya bisa memperlihatkan jiwa pemberontak yang berlebihan, sehingga memperlihatkan citra bahwa orang-orang ini terkesan nakal, liar, egoistis, sulit bekerja sama, tidak bertanggung jawab, dan angin-anginan.

Tipe O

Kelompok orang bergolongan darah O adalah kelompok yang paling besar karena golongan darah ini yang jumlahnya paling banyak. Mereka adalah orang-orang yang berani berekspresi, kadang ceplas-ceplos, dan suka bergaul. Nomi (2017) menggambarkan orang bergolongan darah O sebagai orang yang sangat suka bersaing dan berkutat dalam persaingan merebut power (kekuasaan atau kekuatan).

Mereka adalah orang yang praktis dan logis. Mereka juga fokus pada tujuan, mengejar apa yang diinginkan, sehingga mereka akan melakukan segala cara untuk mencapai keinginan mereka.
Akan tetapi, di sisi lain orang bisa menganggap mereka sebagai egoistis, kurang peduli pada lingkungan, semaunya, dan membuat mereka tidak disukai terutama oleh orang-orang dari golongan darah A yang sensitif. Sifat-sifat seperti ini membuat mereka dikenal memiliki jiwa kepemimpinan.


Sifat positif mereka adalah ramah, santai, optimis, tenang, percaya diri, setia, hati-hati, bersemangat, ulet, mandiri, trendsetter, dapat diandalkan, riang, dan setia. Namun sebaliknya, mereka juga cemburu, kasar, kejam, tidak peka, tidak tepat waktu, tidak terduga, dingin, egois, gila kerja, dan sombong.

Tipe AB

Orang-orang dengan golongan darah AB adalah yang paling sulit dikategorikan. Ini karena mereka memiliki sifat yang bertentangan dalam satu jiwa. Singkatnya, mereka seperti punya "kepribadian ganda". Yang kadang membuatnya lebih rumit, dua sisi kepribadian ini seringkali bertentangan. Inilah yang membuat orang Tipe AB sering dianggap memiliki dua sifat yang berlawanan dan dapat berubah sifat dengan cepat alias angin-anginan.

Hal ini juga yang membuat orang bergolongan darah AB seringkali sulit untuk ditebak kepribadian aslinya. Mereka juga seringkali menutupi sifat asli mereka di hadapan orang asing atau orang yang tidak begitu akrab. Jadi, jika Anda punya teman yang bergolongan darah AB seolah akrab dengan Anda, jangan terlalu cepat mengambil simpulan bahwa dia memang menyukai Anda atau menganggap Anda teman akrab karena bisa saja sifat aslinya justru yang sebaliknya.

Secara garis besar, orang-orang bergolongan darah AB itu empatis dan selalu berhati-hati ketika bergaul dengan orang, namun supel serta bisa diajak berkomunikasi dengan baik sehingga cukup mudah menjalin sosialisasi dan pertemanan. Di hadapan orang banyak, orang bertipe AB bisa membawa keceriaan. Namun di satu sisi, ia tetap berhati-hati ketika memilih teman.

Jika Anda curhat kepada orang bergolongan darah AB, dia biasanya dapat memberi solusi yang logis karena pola pikirnya yang analitis, logis, realistis, meskipun kadang antimainstream. Dengarkanlah nasihatnya karena dia seringkali bisa memberi pandangan dari dua sudut pandang sehingga lebih objektif.

Sifat baik orang ini antara lain perhatian, tertib, dapat diandalkan, dapat dipercaya dengan rahasia, jujur, kreatif, dan diplomatis. Sifat buruknya antara lain egoistis, pelupa, gampang tersinggung, pendendam jika disakiti, terlampau kritis, dan bisa bermuka dua. Sifat buruk lainnya yang sering menyebabkan kesulitan adalah pemikirannya yang kadang kompleks dan rumit. Ini juga mengakibatkan orang seringkali melihat dirinya sebagai orang yang repot alias riweuh.

Kecocokan Pasangan Antargolongan Darah

A cocok dengan A dan AB
B cock dengan B dan AB
AB cocok dengan AB, B, A, dan O
O cocok dengan O dan AB

Referensi:

Nomi, Toshitaka dan Alexander Besher. 2017. You Are Your Blood Type: Sebuah terobosan revolusioner dalam analisis kepribadian. Rahmani A. (penerjemah). Jakarta: Mizan Publika.

Guillebaut, Lauren, 2018, "Blood Type Personality: What Does Your Blood Say About You?", Betterhelp.com, diakses melalui https://www.betterhelp.com/advice/personality/blood-type-personality-what-does-your-blood-say-about-you/.

Wednesday, April 24, 2019

Cara Mengetahui Daftar Folder yang Di-Sharing ke Network Windows

April 24, 2019 Posted by Chief Editor , No comments
File sharing (berbagi berkas) adalah cara membagikan dan menyediakan akses ke suatu media digital, baik itu sebuah program komputer, file multimedia, dokumen, atau buku elektronik. Di dalam konteks teknologi perkomputeran, file sharing biasanya dipahami sebagai cara berbagi file di dalam lingkup jaringan tertentu. Seringkali, lingkup jaringan itu terbatas pada satu jaringan lokal (local network) atau bisa juga pada jaringan yang lebih luas.

Untuk melakukan file sharing, pertama-tama komputer kita harus tersambung pada suatu jaringan. Setelah itu, kita harus mengeset file-file atau folder mana saja yang mau dibagikan ke jaringan. Pengaturan ini dilakukan melalui sistem operasi masing-masing. Di sistem operasi Windows misalnya, file sharing cukup mudah untuk dilakukan. Folder lokasi file yang akan dibagi tinggal diubah Properties-nya di Windows Explorer.

Namun begitu, perlu dicamkan pula bahwa fasilitas ini punya kelemahan. Jika tidak dikendalikan dengan baik, file sharing bisa dieksploitasi untuk penyebaran program-program berbahaya (malware) seperti spyware, virus, trojan, worm, dan sebagainya. Program-program jahat ini bisa masuk ke komputer kita karena file sharing membuka akses komputer kita kepada orang atau komputer lain. Oleh karena itu, file sharing hendaknya hanya diaktifkan ketika diperlukan. Setelah tidak digunakan, folder yang awalnya di-share lebih baik ditutup (tidak di-share lagi).

Permasalahannya adalah jika di komputer Anda sudah terlanjur banyak folder yang di-share, Anda bisa bingung folder mana saja yang harus ditutup. Nah, untuk mengetahui folder mana saja pada komputer Anda yang dibagikan ke jaringan, ikuti langkah-langkah berikut.

1. Buka Command Prompt.
Klik Start Menu, lalu tuliskan "command", biasanya Start Menu akan menampilkan hasil pencarian program Command Prompt.

Cara lainnya adalah menggunakan kotak dialog Run. Buka kotak dialog Run dengan mengunakan kombinasi Ctrl + R. Setelah itu, di kotak open tuliskan "cmd" (tanpa tanda petik).

2. Setelah jendela Command Prompt terbuka, tuliskan perintah net share.

3. Command Prompt akan memberikan daftar folder yang di-share ke Network.

Nah, dari daftar ini, kita bisa mengevaluasi. Mana folder yang seharusnya bisa distop atau ditutup pembagiannya (sharing) ke jaringan. Selamat mencoba!

Monday, April 22, 2019

Kata Sandang dan Pemakaiannya

April 22, 2019 Posted by Chief Editor No comments

Definisi

Kata sandang adalah salah satu nama kelas kata dalam bahasa Indonesia. Kata sandang dikenal pula dengan nama artikula. Kridalaksana (2007) mendefinisikan kata sandang sebagai kategori [kata] yang mendampingi nomina dasar, nomina deverbal, pronomina, dan verba pasif.

Artikula atau kata sandang berfungsi menyatakan gelar, membatasi nomina, dan menominalkan kata lain. Dalam konteks perbandingan gramatika, kata sandang bahasa Indonesia mirip dengan articles dalam bahasa Inggris.

Daftar Kata Sandang

  • Kata sandang berjumlah satu benda: sang, si, hang, hyang, dang
  • Kata sandang berjumlah lebih dari satu: para, kaum, dan umat
Kata sandang hang dan dang hanya digunakan pada karya-karya sastra dengan bahasa ragam Melayu klasik. Kata hyang digunakan untuk mengagungkan sesuatu yang layak disembah sehingga sering ditemukan dalam penamaan dewa-dewi dalam sastra lama atau pun di masa kini.

Kata para adalah kata sandang yang berfungsi sebagai penanda jamak. Artinya, objek yang menjadi makna dari kata yang mengikuti (berposisi di belakang atau berada di sebelah kanan) kata sandang para berjumlah lebih dari satu unit. Maka dari itu, dalam konteks kalimat atau bahasa yang efektif, kita tidak boleh menggunakan kata bermakna jamak lain yang beriringan dengan kata para.


Penggunaan Kata Sandang

Berdasarkan pedoman dan contoh yang dipaparkan di PUEBI, kita bisa menyimpulkan beberapa aturan penggunaan seperti berikut.

1. Kata sandang si dan sang tidak dikapitalkan.
Contoh:
  • Surat itu dikembalikan ke si pengirim.
  • Istri yang salehah itu menyayangi sang suami.
2. Apabila kata sandan si dan sang diiringi kata yang menjadi nama atau sebutan suatu tokoh dalam cerita, kata yang menjadi nama/sebutan itu dikapitalkan, namun kata si dan sang tetap tidak dikapitalkan.
Contoh:
  • Sesaat kemudian, si Kancil berjalan mengendap-endap di kebun Pak Tani.
  • Semua penduduk hutan tunduk kepada sang Singa yang bijaksana.
3. Huruf awal kata sang ditulis kapital jika kata sang menjadi bagian dari nama Tuhan.
Contoh:

  • Orang yang beriman selalu berserah diri kepada Sang Pencipta.
  • Kita harus bersyukur kepada Sang Pemberi Nikmat atas sehat dan umur yang bermanfaat.

Reduplikasi dalam bahasa Indonesia

April 22, 2019 Posted by Chief Editor No comments
Salah satu konsep morfologis yang unik dalam bahasa Indonesia adalah reduplikasi. Reduplikasi adalah istilah linguistik untuk proses morfologis yang berupa pengulangan kata sehingga menghasilkan bentuk berulang atau kata ulang. Reduplikasi dan Kata ulang adalah sebuah materi pelajaran bahasa Indonesia yang kadang menuai masalah di kalangan para siswa -- pengalaman pribadi seseorang yang pernah mengajar bahasa Indonesia di sebuah bimbel.

Pada dasarnya, kata ulang itu terdiri dari dua "wujud" kata, yaitu wujud dasar atau kata dasar, dan wujud tambahan. Wujud dasar biasanya berupa kata dasar yang akan diulang sedangkan wujud tambahan adalah kata yang ditambahkan dalam konstruksi kata ulang dan biasanya merupakan hasil modifikasi bentuk dasar sehingga mirip dengan bentuk dasar. Contoh hubungan pasangan tersebut bisa dilihat dalam ilustrasi di bawah.



Sifat ini berlaku kecuali pada kata berulang suku kata awal atau dwipurwa.

Jika melihat bentuk akhirnya, kata ulang dibagi menjadi:
  1. kata berulang utuh,
  2. kata berulang berubah bunyi,
  3. kata berulang suku kata awal,
  4. kata-ulang berimbuhan, dan
  5. kata-ulang semu.
Kata berulang utuh, adalah kata yang bentuk dasar dan bentuk tambahannya sama persis. Kata ulang utuh misalnya lari-lari, makan-makan, siang-siang, dan sebagainya -- pokoknya, berupa pengulangan kata dasar sehingga terdiri dari kata yang sama persis.

Kata berulang berubah bunyi adalah kata ulang yang bentuk tambahannya mirip dengan bentuk dasar kecuali satu atau beberapa perubahan bunyi. Misalnya, sayur-mayur, lauk-pauk, serta-merta, pontang-panting, dan sebagainya. Dalam sayur-mayur, bentuk tambahannya adalah sayur yang [s]-nya diubah menjadi [m].Dalam lauk-pauk, bentuk tambahannya adalah lauk yang [l]-nya diubah menjadi [p]. Dalam pontang-panting, yang terjadi adalah penggantian vokal [o] dan [a] dalam pontang menjadi [a] dan [i] dalam panting.

Kata berulang-suku kata awal adalah kata ulang yang tidak memiliki bentuk tambahan; terdiri dari satu kata yang berupa ubahan dari bentuk dasar. Kata ulang ini tidak memunculkan bentuk dasarnya tetapi menampilkan bentuk baru. Perubahan yang terjadi adalah penambahan suku kata baru sebelum suku kata pertama bentuk dasar. Suku kata pertama itu terdiri dari pengulangan onset* pada suku kata pertama bentuk dasar -- yang menjadi suku kata kedua dalam bentuk berulangnya -- dan penambahan fon baru sebagai nukleusnya**. Contohnya adalah lelaki, sesama, pepatah, tetangga, rerumput(an), tetua, dan sebagainya. Untuk mempermudah penjelasan pengertian di atas, silakan lihat bagan di bawah ini.

Catatan:

* Onset adalah konsonan yang mendahului sebuah nukleus dalam satu satuan suku kata. Misalnya, [k] adalah onset dari suku kata kar.

** Nukleus adalah inti suku kata, biasanya terdiri dari vokal. Misalnya, [a] adalah nukleus dari suku kata kar.

Saturday, April 13, 2019

[Cerpen] Sepulang Menonton Midnight di BSM

April 13, 2019 Posted by Chief Editor No comments
Ada yang tahu BSM? Bagi generasi muda angkatan awal milenium alias 2000-an pasti tahu mal paling terkenal di Bandung Timur ini. Ketika hampir semua mal besar dibangun di pusat kota Bandung, BSM menjadi satu-satunya mal besar dan terbilang elit di kawasan Bandung Timur.

BSM adalah singkatan dari Bandung Super Mal. Sejak dibukanya pada 2001, BSM adalah salah satu tempat nongkrong anak muda yang populer. Populer karena penampakan gedung dan tata lokasinya yang keren, adanya berbagai tempat belanja dan jajan yang elit, plus sering pula ada event yang cukup besar digelar di lapangan parkirnya yang lumayan luas. Sebelum digusur menjadi arena bermain, BSM juga pernah menjadi “terminal” bus Primajasa dengan trayek khusus Bandara Soekarno-Hatta - Bandung.

Saya sendiri sempat sering main ke BSM. Biasanya saya ke BSM karena dua hal. Pertama, ketika diajak jalan-jalan dengan teman dari sekolah maupun dari sekolah lain, kami menjadi BSM sebagai titik kumpul. Jalan-jalannya sih di tempat lain, yang penting ngumpul dan nongkrongnya di BSM dulu, he-he-he. Kedua, saya ke BSM jika kebetulan orang tua datang berkunjung ke Bandung. Maklum, sebagai anak “impor” dari pulau seberang, saya biasanya baru bisa jalan-jalan ke tempat elit ketika ortu datang.

Saya sendiri terakhir ke BSM alias TSM pada pertengahan 2011, tepat sebelum terminal bus Primajasa trayek Bandara Soekarno-Hatta itu dipindahkan ke Pasar Modern Batununggal. Kalau tidak salah, saat itu saya mengantar ayah ke terminal bus Primajasa yang akan berangkat ke bandara. Beliau baru saja berkunjung ke Bandung dan akan kembali ke Mamuju via penerbangan Jakarta-Makassar lalu lanjut bus malam 450 kilometer.

Para generasi muda 2000-an, yang kini pasti sudah menjadi generasi bapak-bapak dan ibu-ibu muda pasti kenal nama BSM. Namun bagi generasi sekarang, BSM mungkin lebih dikenal dengan nama TSM alias Trans Studio Mall. Ya, mal yang pernah menjadi ikon Bandung Timur ini kini menjadi ikon kota Bandung, sejak dirombak dan dibuka kembali pada pertengahan 2012 sebagai arena bermain dalam-ruangan (indoor) terbesar di Indonesia. TSM sekarang memiliki arena taman bermain, masjid yang keren, dan hotel bintang lima besar dengan kapasitas ratusan kamar.

Akan tetapi, di balik kemegahan gedung hotel bintang lima, arena bermain, dan mal itu, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa BSM atau TSM sebenarnya agak “horor”. Ada banyak alasan mengapa saya katakan demikian dan alasan-alasan ini sebenarnya sudah menjadi rahasia umum bagi mereka yang tahu pembangunan BSM, atau pernah merasakan sendiri kehororannya.

Pertama, sebagian lahan yang dipakai membangun BSM adalah bekas gusuran makam. Tidak semua makam karena sebagian masih tersisa di daerah belakang TSM kini. Kedua, berhubung lahannya bekas tanah pemakaman, banyak orang yang mengaku pernah mengalami hal-hal aneh di sekitar BSM. Salah satunya cerita yang akan saya sampaikan berikut.

***
Malam itu, di pengujung bulan November 2009, selepas minggu ujian tengah semester, aku, Ninda, Hendi, dan Noni berencana menghabiskan malam minggu dengan menonton film di bioskop. Kami berempat adalah mahasiswa tingkat dua di salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Bandung. Akan tetapi, kampus tempat kami berkuliah bukan di Kota Bandung, melainkan di Jatinangor. Ninda adalah pacarku; kami berbeda jurusan tapi masih satu fakultas. Hendi adalah teman sekosanku yang berkuliah di fakultas yang sama dengan Noni.

Kami berangkat dari Jatinangor selepas magrib dan kami tidak menyangka bahwa kemacetan Bandung di Sabtu malam ternyata luar biasa. Awalnya kami berencana menonton film yang tayang selepas isya. Sayangnya, karena habis waktu di jalan kami tiba terlalu malam di BSM. Ketika membeli tiket pun, kami hanya kebagian jadwal paling malam, yang baru mulai pukul 22.00. Ini berarti kami akan pulang lewat tengah malam.

Awalnya kami ragu karena jadwal itu terlalu malam, terutama Noni yang menolak. Namun pada akhirnya, mengingat kami sudah kadung datang jauh-jauh dari Jatinangor dan Ninda pun menyetujui, Noni pun setuju. Kami membeli empat tiket untuk jadwal paling malam.

Setelah bermain di arena bermain mal kemudian mengisi perut di restoran ayam cepat saji, kami kembali ke area bioskop. Kami berpapasan dengan beberapa orang yang beru pulang menonton. Ketika kami melihat ke sekeliling, tidak banyak orang yang menunggu giliran. Jelas, nonton tengah malam tidak semua orang menyukainya. Tapi setidaknya kami bersyukur karena ternyata masih ada orang pula yang menonton bersama kami. Kami duduk di sebuah bangku panjang lalu lanjut mengobrol.

Pukul sepuluh kurang lima belas menit, suara mbak-mbak memberi pengumuman bahwa penonton film pukul 22.00 dipersilaka masuk ke studio. Kami pun bangkit dari bangku kemudian berjalan studio yang dimaksud. Ruangannya besar. Para penonton yang lain pun satu per satu masuk dan duduk di tempat masing-masing.

Tidak lama kemudian lampu dimatikan. Film pun diputar. Sepanjang film dimainkan, kulihat Ninda seperti tidak begitu bersemangat, mungkin karena dia lelah atau mengantuk. Dia belum pernah nonton bioskop dengan jadwal semalam ini. Sebaliknya Hendi dan Noni rupanya penuh perhatian pada film yang sedang diputar.

Satu jam empat puluh lima menit berjalan, film pun selesai. Lampu studio kembali dinyalakan. Mataku silau karena tiba-tiba mendapat cahaya terang setelah berjam-jam dalam kegelapan. Kulihat Ninda ternyata sudah pulas bersandar di kursinya.

Kuguncang bahunya lalu berkata, “Nin… Nin… Bangun yuk, filmnya udah beres.”
Dengan "wajah bantal"-nya, ia pun membuka mata lalu berkata, “Lho, udah beres…”
“Kok pake, ‘lho’. Kamu yang molor pulas begitu,” balasku menggodanya.

Kulihat Hendi dan Noni pun sudah berdiri dan keluar dari studio. Kami pun mengikutinya. Langkah mereka agak cepat, seperti terburu-buru. Mau ke mana sih, pikirku. Santai sajalah …

Namun begitu, seolah bisa membaca komentarku di dalam hati, tiba-tiba Hendi berkata, “Yuk ah, langsung pulang, agak dipercepat.”
“Bentar Hen, aku mau ke WC dulu ya. Kebelet nih,” balas Ninda.

Namun begitu, sambil berjalan agak cepat di selasar mal, Noni kemudian menyela, “Nggak Nin, nanti aja ke WC-nya. Kita pulang dulu aja.”

“Aah, aku kebelet Non, masa iya harus nahan pipis sampai Nangor?”
“Ya nggak usah ditahan sampai kosan juga. Nanti aja di pom bensin kek, atau di mana kek, asal jangan di sini,” kata Noni sambil berjalan agak cepat.
“Emangnya kenapa sih?” tanyaku penasaran.
“Nanti aja ceritanya di mobil,” jawab Hendi.
“Enggak ah Non, aku ke WC di sini aja ya!” Ninda menunjuk sebuah lorong ke arah toilet yang akan kami lewati.

Ninda pun berlari kecil ke dalam lorong menuju toilet, meninggalkan kami, di mulut lorong.
“Nin, Ninda!” panggil Noni, tapi tidak digubris.
“Egi, sana temenin si Ninda gih!” perintah Hendi.
“Ya masak iya gue masuk ke WC cewek, Hen,” protesku.
“Ya nggak usah masuk ke dalam WC-nya kali. Tungguin aja di pintu depan WC-nya.”
“Emang kenapa sih?”
“Udah sana buruan!” Hendi mendorongku masuk ke lorong toilet.

Aku pun berjalan sampai ke depan pintu toilet perempuan lalu berdiri menyandar ke dinding tepat di sebelah pintu ruang toilet perempuan. Di balik pintu itu adalah ruang besar yang terdapat bilik-bilik WC perempuan. Mungkin karena suasana sepi dan hanya ada Ninda yang menggunakan toilet saat itu, aku bisa mendengar deru air yang mengocor dari keran dan ditampung oleh ember plastik.

Tidak lama, kudengar suara air mengalir itu berhenti. Dan hanya beberapa detik kemudian, tiba-tiba pintu WC itu terbuka dan Ninda keluar dari toilet.

“Udah pipisnya?” tanyaku. Ninda mengangguk. “Yuk, atuh, pulang.”
Aku menarik tangannya.

Tetapi, aku merasa aneh. Kok tangan Ninda dingin banget. Apa mungkin karena kelamaan di ruangan studio yang ber-AC? Memang tadi AC-nya kurasakan terlalu dingin. Atau mungkin bisa jadi karena baru dari toilet dan terkena air.

Aku menggandeng Ninda kemudian berkumpul lagi dengan Hendi dan Noni. Kami bertiga menyusuri selasar mal yang sepi. Semua toko sudah tutup. Lampu pun hanya dinyalakan seadanya. Kami turun melalui eskalator yang sudah dimatikan. Suasana atrium mal yang luas kukira tidak begitu seram, ternyata sebaliknya. Gelap. Orang-orang yang menonton bersama kami tadi sudah pergi duluan. Tinggal kami berempat yang masih berada di dalam mal, sepertinya.

Keluar dari pintu mal, kurasakan udara malam Bandung yang begitu dingin. Kami cepat-cepat berjalan ke arah mobil. Aku duduk di kursi pengemudi, Ninda duduk di sampingku; Hendi dan Noni duduk di kursi belakang.

Ketika aku menyerahkan karcis dan membayar tiket parkir di pos keluar parkir, ada hal yang aneh. Saat si petugas penjaga pos parkir akan menyerahkan uang kembalian parkirku, kulihat ia sempat menatap ke arah Ninda yang duduk di kursi penumpang mobilku. Ia menatapnya agak lama, mungkin sekitar 10 detik, sampai kutegur, “A’, kembalian saya …. A’?”

Lalu dengan ekspresi seolah baru sadar dari melamun, ia sempat bergeleng kecil, kemudian mengambilkan uang kembalian dan menyerahkannya kepadaku.

Tetapi, sebelum aku menginjak pedal gas, kudengar ia sempat berkata, “A. hati-hati di jalan ya.”
Lho, memangnya ada apa? Tumben juga ada petugas pos parkir yang memberi imbauan berhati-hati di jalan. Tetapi betul juga sih, kami diimbau supaya berhati-hati, mungkin karena sekarang sudah malam dan khawatir kami mengantuk atau ada kendala di jalan.
“Iya, nuhun,” jawabku sekadarnya.

Mobilku meluncur dari pintu keluar BSM. Belum lama, Noni berkata, “Gi, nanti kalo ada pom bensin, kita singgah dulu, ya. Aku pengen pipis nih, kebelet juga dari tadi.”
“Ih, bukannya tadi bareng Ninda sekalian ke toiletnya,” jawabku.
“Ah, nggak mau, ah. Si Ninda aja berani-beraninya, aku mah ogah.”
“Lho, emangnya kenapa?” tanyaku.
“Kamu mah nggak tahu ceritanya sih, ya?” balas Noni. “BSM itu angker tahu, kalau malam. Udah banyak orang yang ngalamin hal-hal aneh pas di BSM malam-malam, apalagi kalau pulang nonton midnight kaya tadi.”
“Oh ya, aku nggak tahu tuh.”
“BSM itu ‘kan dulunya tanah kuburan, Gi,” kini Hendi yang berceletuk.

Deg! Ah, masa sih, aku baru tahu, dalam hatiku terkejut.

“Iya, suka banyak yang ngeliat penampakan gitu di mal atau di pelataran parkirnya kalo pulang midnight. Karyawan yang shift malam juga katanya sering ketemu sama yang aneh-aneh,” tambah Noni.
“Kalian tuh bukannya ngomong dari tadi,” kataku.
“Ya, masa ngomongin yang kaya gitu di tempatnya. Ntar sompral, datang beneran, gimana?” jawab Noni.

Lantas, aku bertanya pada Ninda yang tadi ke toilet sendirian. “Nin, tadi di WC lihat yang aneh-aneh nggak?”

Kulihat Ninda diam sepanjang perjalanan, tatapannya lurus dan seperti kosong ke arah depan. Mungkin dia lelah atau masih mengantuk karena kubangunkan pas film selesai.
“Nggak,” jawabnya singkat.
Kuperhatikan wajahnya yang samar tampak agak pucat.
“Kamu nggak apa-apa, Nin? Kok mukamu kayak nggak sehat, ya? Sakit?” tanyaku.
“Nggak, apa-apa, A,” jawabnya sambil menoleh pelan. Lalu, kembali menatap ke arah jalan. Kini kepalanya menyandar ke pintu mobil sebelah kiri. Mungkin dia mengantuk.

Sampai di perempatan Samsat Soekarno-Hatta, aku berbelok ke kiri, kemudian mendapati sebuah pom bensin. Aku membelokkan mobil ke pom bensin tersebut kemudian parkir di dekat WC-nya. Noni pun turun. Aku juga turun. Hendi dan Ninda tidak ikut.

“Aku ke WC juga, ya,” kataku pada Ninda. Ia hanya mengangguk sambil tetap bersandar ke pintu mobil.

Setelah buang air kecil, ponselku tiba-tiba berdering. Sambil menunggu Noni yang belum keluar dari bilik toilet, aku merogoh ponsel di saku celana.

Kulihat dari layar ponsel, ada nama Ninda muncul sebagai identitas pemanggil. Lho, ngapain dia menelepon segala. Kalau mau bicara ‘kan tinggal keluar dari mobil. Aneh.

Aku pun iseng mengangkat panggilannya sambil berjalan ke arah mobil. Namun apa yang kudengar selanjutnya, tidak pernah bisa kupercaya dan kulupakan sepanjang hidupku.

“Egiiii! Kamu ke manaaaa! Jahat kaliaaaan! Ngapain kalian tinggalin aku sendirian di WC mal sepi begituuuu!!! Udah gitu di-SMS nggak dibales-bales, ditelepon juga nggak diangkat-angkat! Jahat kamu! Kalian di mana sekarang!!! Disusul ke parkiran mobil udah nggak ada! Huu huu huu …. ” itu jeritan suara Ninda yang panik, kemudian diikuti isak tangisnya sesenggukan. Dia menangis sejadi-jadinya di telepon.


What?? The f--- ….How ….

Kok ….


Setelah mendengar umpatan kekesalan Ninda di telepon dan sekarang menangis sesenggukan, langkahku berhenti. Di situ, otakku berusaha mencerna dan memahami situasi ini dengan logikaku, yang sayangnya berhenti pula. Aku tidak paham.

Kenapa Ninda menelepon bahwa aku, Hendi, dan Noni meninggalkannya sendirian. Kami bertiga bersama Ninda sudah pulang. Aku yang menemaninya dari toilet. Kami sudah di mobil bersama-sama. Ia duduk di kursi penumpang sebelahku sepanjang perjalanan ….

Akan tetapi, ini jelas suara Ninda, dia kembali memanggil-manggil namaku, dengan nada kesal campur sesenggukan, memintaku untuk menjemputnya di parkiran BSM.

Kalau benar yang ditelepon sedang mengamuk dan menangis ini Ninda, berarti … yang di mobil itu … siapa?

Aku pun langsung berlari ke arah mobil kemudian membuka pintu penumpang. Dan … tidak ada siapa-siapa di situ.

Aku kemudian berkata pada Hendi, “Hen, si Ninda ke mana?”
Hendi pun bingung.
“Iya, Ninda ke mana?”
“Ke mana gimana?”
“Ninda ke mana, Hen?”
“Nggak tahu, Gi. Tadi kan dia duduk di depan.”
“Iya, sekarang dia ke mana?”

Hendi diam. Matanya menatapku. Dahinya berkernyit. Wajahnya benar-benar bingung. Tidak paham situasi.

Aku pun bertanya lagi, “Tadi dia ngomong nggak sama kamu waktu keluar dari mobil?”
“Nggak, Gi. Nggak ada yang keluar dari mobil setelah kamu sama si Noni,” jawabnya.
“Lah, terus ini si Ninda ke mana? Yakin lo si Ninda nggak keluar dari mobil?”
“Sumpah, Gi. Ngapain gue bohong?” balasnya dengan ekspresi jujur.
“Nah, terus ini gimana … si Ninda kan tadi di sini, naik mobil, bareng sama kita. Tapi …” aku tidak bisa melanjutkan kalimat.
“Tapi kenapa?” Hendi bingung.
“Ini dia malah nelepon gue, dia nangis-nangis, suruh kita balik ke BSM. Dia bilang kita ninggalin dia sendirian di dalam mal.”

Mendengar itu, Hendi membelalak, kemudian berkata, “Jangan-jangan … yang tadi ikut bareng kita itu …. Bukan Ninda?”

Mendengar itu, aku pun lemas. Kakiku gemetar. Apa benar yang tadi bersama kami itu bukan NInda? Apa benar gadis yang kugenggam tangannya dari toilet mal dan duduk di kursi penumpang sampingku itu tadi bukan Ninda?

Kulihat panggilan dari Ninda sudah selesai. Kulihat ada pemberitahuan 6 pesan singkat di layar ponsel.

Dan tiba-tiba dari belakangku Noni pun berteriak, “Egi! Jahat kamu, ninggalin di toilet sendirian!!”
Aku tidak menggubrisnya.

Aku bingung. Aku lemas. Aku pun jongkok di aspal parkiran pombensin lalu menyandar ke pintu kursi penumpang mobil. Hendi keluar dari pintu belakang.

Noni yang tampak bingung bertanya kenapa, lalu Hendi menjelaskan situasinya. Setelah mendengar cerita Hendi, Noni menutup mulutnya, matanya mendelik, lalu merebut lengan kiri Hendi dan mendekapnya erat-erat. Jelas ekspresi ketakutan muncul di raut wajahnya.

Hendi kemudian bertanya padaku, “Yuk, Gi. Kita jemput Ninda dulu di BSM.”
Aku tak menjawabnya.

“Kamu masih bisa nyetir nggak? Kalau nggak bisa sini biar aku yang bawa mobilnya,” kata Hendi sambil mengulurkan tangan kanannya mengajakku berdiri. Mendengar itu, dengan setengah sadar, kuserahkan kunci mobil ke Hendi.

Hendi membantuku berdiri. Lututku masih gemetar. Pandanganku nanar. Sempat kudengar Noni menegurku agar tidak melamun. Mereka kemudian mendudukkanku di kursi belakang. Noni ikut duduk di kursi belakang. Hendi menyalakan mesin mobil, kemudian pergi dari pom bensin. Kami harus memutar agak jauh di jalan Soekarno-Hatta karena memang hanya sedikit putaran di jalan raya itu. Hendi memang bisa menyetir mobil, tetapi dia tidak punya SIM. Namun begitu, aku sudah tidak peduli lagi. Yang penting kami bisa menjemput Ninda. Aku tidak bisa menyetir. Kaki dan tanganku masih lemas. Mungkin shock.

Sampai di BSM, Hendi memarkirkan mobil di luar pagar. Ia kemudian menelepon Ninda. Setelah menutup teleponnya, ia berkata, “Ninda nunggu di pos satpam yang sebelah sana,” sambil menunjuk ke arah pintu keluar. Ia kemudian menyalakan lagi mesin mobil lalu bergerak ke pos satpam.

Di pos satpam, ia mengobrol sebentar dengan para satpam yang menemani Ninda. Ia pun keluar pos sambil berterima kasih kepada para satpam.

Ketika Ninda masuk ke mobil, ia duduk di kursi depan. Ia kemudian melihat ke arahku. Aku yakin dia sebenarnya mau mengamuk lagi, tetapi melihat keadaanku yang lemas. Dia mengurungkannya.

Selanjutnya, Hendi kembali menyalakan mobil dan membawa kami semua kembali ke Jatinangor. Sepanjang perjalanan terakhir malam itu, kami berempat diam seribu bahasa

Tidak ada yang berani membahas peristiwa yang terjadi pada kami malam itu. Pengalaman mengerikan itu, selamanya menjadi kenangan kami. Seingatku kami hanya sekali-kalinya membahasnya, setelah itu tidak pernah lagi. Dan kami tidak tahu apakah salah satu dari kami pernah menceritakannya kepada orang lain atau tidak. Itu hak masing-masing. Termasuk percaya atau tidaknya kalian, para pembaca, terhadap ceritaku ini.

[Cerpen] Mawar di Kamar Mandi Perempuan

April 13, 2019 Posted by Chief Editor No comments
Bel tanda pulang berdering keras. Siswa-siswi kelas XI IPS 2 menyambutnya dengan seruan “Yeeah” yang kompak. Mereka pasti senang karena akhirnya jam pelajaran Bahasa Inggris yang dipandu oleh Bu Lilis berakhir. Mereka juga pasti senang karena bisa segera pulang sementara aku tetap saja merasa jenuh karena sehabis ini aku harus ikut latihan tim paduan suara sekolah. Kami akan mengikuti lomba hari Minggu ini. Waktu tinggal tiga hari dan Bu Lilis masih belum puas dengan performa kami. Semua orang memang mengenal beliau sebagai seorang perfeksionis.

Sesungguhnya tak ada keinginan yang lebih kuat daripada bolos latihan hari ini. Kejenuhanku muncul gara-gara terus berlatih intens selama 2 jam nonstop setiap hari sejak seminggu yang lalu. Dan rasa jenuh itu bercampur dengan rasa tidak enak yang sedang menggerayangi tubuhku seharian ini. Mesti maklum, hari pertama tanggal merah tidak pernah nyaman bagi perempuan. Berbagai macam perasaan tidak enak muncul diikuti dengan ketidakstabilan emosi. Seringkali, kelabilan dan kesensitifan emosional itu diamplifikasi dengan perasaan tubuh yang tidak enak. Maka tolong jangan heran atau cepat-cepat ngegas ketika berkomunikasi dengan kami para hawa yang sedang menjalani hari-hari terlarang.

Namun apa daya, Bu Lilis yang kebetulan merupakan pelatih tim vocal grup kami adalah guru yang mengajar jam terakhir. Ia berpesan kepadaku agar segera ke ruang musik.

Selain aku, di kelas ini ada satu lagi anak anggota ekskul vocal group. Dia bernama Azaya. Kami bukan teman sebangku tapi kami sangat akrab sebab sudah saling kenal sejak bergabung dengan vocal group enam bulan yang lalu.

Aku dan Azaya meminta izin untuk makan siang dulu. Bu Lilis mengizinkan dan berpesan agar aku tidak berlama-lama. Bu Lilis meninggalkan kelas dan kami ke arah yang berlawanan. Aku dan Azaya membeli semangkok mi instan rebus lengkap dengan siomay goreng dan bakso. Minumnya teh botol dingin. Nikmat dunia.

Selanjutnya pas azan Asar kami beranjak ke masjid sekolah yang ukurannya lumayan megah. Masjid ini berlantai dua. Lantai satu dipakai salat sedangkan lantai dua biasanya dipakai remaja masjid untuk pengajian atau berkegiatan. Namun tiap Jumatan baik lantai satu ataupun dua digunakan untuk salat.

Azaya salat Asar sementara aku menunggunya di teras masjid. Aku sedang tidak bisa menunaikan salat, karena itu tadi, hari ini hari pertama tanggal merahku. Ikut salat hanya alasanku kepada Bu Lilis karena aku enggan datang cepat-cepat ke tempat latihan.

Selepas salat, kulihat anak-anak ikatan remaja masjid sekolah berkumpul. Ada Hisyam, ketua kelasku di situ. Iseng kutanya, ada acara apa. Hisyam menjawab bahwa mereka akan rapat tentang persiapan acara peringatan maulid.

Sehabis Azaya beres mengenakan kembali sepatunya kami beranjak ke ruang musik. Sekitar dua jam kami berlatih. Bagiku latihan ini kini menjemukan karena kami merasa bahwa nyanyian kami sebenarnya sudah bagus. Tetapi entah apa lagi yang diinginkan Bu Lilis. Ia berkali-kali mengganti aransemen dan teknik bernyanyi kami. Kadang menurut kami sudah bagus, menurut beliau tidak. Diubah lagi. Pernah suatu ketika, beliau mengubah aransemen yang sudah klop, setelah didengarnya berulang-ulang, ia kemudian mengubahnya kembali ke bentuk asal. Ya ampun, Ibu ....

Sepanjang latihan, separuh anggota tim berusaha menutupi kebosanannya dengan berusaha menyanyi sebaik-baiknya. Tapi rasa bosan memang sulit dibohongi. Akibatnya, aku sendiri menganggap nyanyian kami tadi sama sekali tidak layak dipertandingkan. Satu setengah jam seperti itu dan tanpa perubahan. Raut muka Bu Lilis memperlihatkan kebelumpuasan dan sedikit kekecewaan karena pada sesi latihan ini, menurutnya, nyanyian kami masih belum bagus.

Akhirnya, Bu Lilis menutup latihan kami hari ini dengan catatan bahwa kami masih harus berlatih besok. tiga perempat anggota tim paduan suara mengeluh kecil. latihan intens yang sudah berjalan satu minggu membuat kami jenuh. Kak Nazwa ketua ekskul kami yang biasanya paling semangat dan selalu mengingatkan kami untuk datang latihan bahkan sudah jengkel. Tadi siang aku sempat mencuri dengar bahwa ia sudah punya rencana berjalan-jalan bersama Kak Budi besok pasti dia kesal karena rencana nya gagal.

Dan sesungguhnya aku bisa memahami kekesalan dan kekecewaan Kak Nazwa karena aku dan Fadel juga sudah janjian untuk keluar besok sore. Fadel adalah teman dekatku. Aku berkenalan dengannya sejak hari-hari pendaftaran masuk sekolah. Dia anak yang baik, sering membantuku, dan siswa yang lumayan pintar. Dia sudah bersedia mengantarku ke Pasar Palasari besok untuk mencari novel sebagai bahan tugas bahasa Indonesia.

Sementara Bu Lilis menutup sesi latihan dengan pesan-pesan yang sudah tidak kupedulikan lagi karena pasti bicara hal yang sama dari kemarin, kulihat matahari di luar cahayanya semakin redup. Kunyalakan layar ponselku dan kulihat waktu menunjukkan pukul 5 sore. Para anggota paduan suara bubar meninggalkan ruang musik.

“Lin, kamu pulang sama Fadel lagi hari ini?”
“Iya, kami udah janjian,” jawabku
“Ya udah, kalo gitu, aku duluan, ya! Dadah, hati-hati di jalannya, yaa,” kata Azaya sambil senyum kecil.
“Iyaa,” jawabku asal.

Aku mengambil tas dan melangkah ke luar. Tepat di luar ruang musik, sudah ada Fadel yang sedang berdiri. Sepertinya dia sudah lama menungguku. Dia duduk santai pada bangku besi di koridor, membelakangi dinding pagar koridor lantai dua, sambil menatap layar ponselnya. Mungkin tadi dia sedang menonton film atau meramban web.

Sambil menutup pintu ruang musik aku berkata, ”Hai, Del, udah lama nunggunya?”

Fadel buru-buru mematikan layar ponselnya dan memasukkan ponsel itu ke dalam saku celananya lalu berkata, “Nggak kok, baru sepuluh menit. Sudah beres latihannya?”
“Iya, udah beres. Yuk!”

Kami lalu berjalan berdua di koridor lantai dua perlahan. Matahari sudah turun dari panggungnya. Jingga tumpah di tepian langit. Lampu koridor telah dinyalakan.

“Kayaknya capek juga ya jadi anak vocal group. Aku baru tahu kalau kalian sebelum lomba bisa intens begini. Kukira kalian setiap hari kerjaannya nyanyi-nyanyi saja,” Fadel berkomentar.
“Ya nggak, lah. Iya sih, biasanya kita emang santai-santai aja. Kalaupun ada latihan nyanyi, biasanya nyanyi bebas. Tapi kalau akan ada lomba sih lain cerita. Kalo mau juara ya harus rajin latihan,” balasku.

Inginnya kuhentikan kalimat itu di situ, tapi tak kuasa akhirnya kulanjutkan, “Besok juga seperti nya aku ada latihan lagi. Tadi Bu Lilis Tiba-tiba meminta kami untuk latihan lagi besok. Jadi seperti nya rencana kita untuk pergi ke Palasari harus batal.”

Mendengar itu, kulihat tersurat sedikit ekspresi kekecewaan di raut muka Fadel, tetapi ia menjawab, “Oh begitu …. Ya udah, nggak apa-apa. Lusa atau nanti juga nggak masalah.”
“Sori ya, Del, Bu Lilis emang suka dadakan begitu kalau bikin rencana,” kataku lagi. Fadel hanya mengangguk.

Kami yang sejenak kehilangan kata, menuruni tangga dari lantai dua ke lantai satu dengan canggung.
“Sori ya, Del. Aku nggak enak nih, udah ngajakin tapi malah ngebatalin,” ucapku.
“Udah, kan tadi udah kubilang nggak apa-apa, next time aja.”

Ketika langkah kaki kami sampai di lantai satu, suasana gelap dan sepi. Tinggal satu-dua anak yang masih ada di lapangan. Biasanya mereka dari ekskul basket atau siswa yang iseng menggunakan lapangan basket untuk bermain. Di seberang sana, lampu-lampu masjid sudah menyala terang. Para remaja masjid sepertinya masih berkumpul di sana. Mungkin akan sekalian salat magrib berjamaah.

Menyusuri koridor lantai satu, aku berpikir bahwa ternyata seremang-remangnya koridor lantai dua, lebih kelam lagi koridor lantai satu. Aku sudah mendengar berbagai macam cerita tentang kejadian aneh atau seram di sekolahku. Akan tetapi aku sebenarnya bukan orang yang percaya hal-hal seperti itu. Meskipun begitu, rasa takut secara alami muncul ketika kita mendapati suasana semacam ini.

Meskipun begitu, ada hal yang lebih penting daripada suasana seram sekolah. Hari ini hari pertama siklus menstruasiku. Sedari siang aku sebenarnya sudah merasa tidak nyaman. Kuputuskan aku akan berganti pembalut sebelum pulang.

Kebetulan, kami akan melewati toilet perempuan. Toilet ini terletak di sebelah ruang tata usaha dan ruang gudang sound system yang sudah terkunci rapat.

Sebenarnya agak aneh ketika kulihat pintu toilet ini terbuka lebar. Biasanya, semua ruangan di gedung sekolah, termasuk toilet, dikunci pada pukul 4 sore. Mang Dirman, petugas kebersihan sekaligus juru kunci sekolah akan hanya menyisakan toilet masjid agar tidak dikunci karena kuncinya dipegang oleh anak-anak remaja masjid. Kunci masjid sendiri seringkali dititipkan ke satpam. Dan satpam, setahuku, nyaris tidak pernah mengunci kamar mandi masjid. Pos satpam tidak dilengkapi toilet jadi satpam harus menumpang buang air di toilet masjid. Masjid juga biasanya digunakan oleh warga sekitar untuk salat Magrib dan Isya berjamaah jadi lebih baik dibiarkan tidak terkunci.

Aku sebenarnya merasa janggal juga, tumben sekali toilet perempuan lantai satu tidak dikunci. Akan tetapi, daripada harus menyeberang dua lapangan, basket dan voli, kemudian melepas sepatu karena harus menginjak lantai batas suci, “Bentar ya del aku mau ke kamar mandi dulu,” sambil berkata begitu kebetulan kami sampai di depan kamar mandi perempuan lantai satu.

“Mau ke mana Lia?”
“Toilet, Del.”
“Ngapain?”
“Ih kepo banget, sih. Urusan cewek lah, mau tahu aja,” jawabku ketus.
“Ooh ….” Ia sepertinya paham dengan istilah urusan cewek yang kumaksud. Akan tetapi, di balik kalimatnya yang menyiratkan kesepahaman itu, raut wajah Fadel agak janggal.
“Titip tas jaket, ya, Del,” kataku sambil menyerahkan sweaterku. Namun kulihat, ia memandang pintu kamar mandi perempuan yang saat itu terbuka lebar dengan sorot pandangan yang aneh. Dari dalam kamar mandi terdengar suara deras kucuran air yang sedang mengisi bak mandi.

“Lia, sori nih. Gimana kalo kamu pake kamar mandi masjid aja?”
“Lho, memang nya kenapa? Males ah, jauh. Ini ada yang dekat dan masih buka, kok malah cari yang jauh? Belum lagi harus buka sepatu, males ah, repot.”
“Tapi, kata orang-orang ….”
“Udah buruan sana, tungguin aku di parkiran aja,” belum sempat Fadel melanjutkan kalimatnya, sudah kupotong. Setelah itu aku mendorong Fadel untuk pergi duluan. Risih rasanya kalau aku ingin mengganti pembalut sambil ditunggui cowok di depan toilet perempuan pula. Lantas masuklah aku ke dalam kamar mandi perempuan.

Kamar mandi itu berbentuk memanjang ke dalam. Di dekat pintu ada sebuah wastafel keramik yang semua orang tau keran nya sudah tidak berfungsi. Ada tiga bilik toilet di dalam nya. Saat itu dua bilik paling ujung tertutup. Terdengar suara air dari balik kedua bilik. Aku masuk ke bilik paling depan. Air di dalam bilik itu pun mengalir kencang.

Aku mulai berbenah, mengganti yang harus aku ganti. Akan tetapi, tiba-tiba aku tersadar bahwa aku betul-betul lupa membawa kantong plastik.

“Waduh, masak iya dibuang begitu saja? ‘Kan jorok. Tetapi … Aduh, bagaimana ya …” pikirku dalam hati kebingungan. Maka dengan sangat terpaksa, aku membuka tas dan mengambil buku binder. Kusobek lima lembar kertas binder ukuran A5 yang masih kosong, membungkus pembalut bekas yang akan kubuang, lalu membuang bungkusan itu ke tempat sampah di samping jamban.

Setelah membuang sampah, aku mengambil timba di dalam bak mandi. Namun … “Lho, apa itu? Kembang?”

Hatiku tersentak ketika melihat sekuntum kembang mawar merah mengambang di permukaan air bak mandi, yang kerannya masih mengucur deras. Kenapa ada bunga mawar di situ? Dari mana datangnya?
Melihat kejanggalan ini, dalam hatiku tiba-tiba muncul rasa campur antara takut dan penasaran. Aku menciduk setimba air lalu menyiram jamban.

Lantas tiba-tiba muncul lagi satu kembang mawar. Kali ini kulihat sendiri mawar itu jatuh dari atas. Lebih tepatnya, kembang mawar itu muncul dari balik dinding bilik toilet di sebelah kiriku. Seolah-olah ada yang melemparkan mawar itu dari balik dinding bilik toilet.

Wah jangan-jangan orang yang sedang berada di bilik sebelahku ini jahil, begitu pikirku. Maka dengan spontan aku berkata dengan keras, “Hei, apaan sih maksudnya lempar-lempar mawar? Nyampah sembarangan kamu!” Aku berkata sambil mendongak ke arah celah dinding pembatas bilik antartoilet. Siapa tahu ada mawar lagi yang muncul dari arah celah itu.

Selang beberapa detik, jatuhlah sekuntum mawar lagi. Kali ini mawar itu datang dari dinding yang sedang kubelakangi. Mawar itu memantul di dinding pembatas toilet yang sedang kuhadapi. Refleks aku membalikkan badan kemudian mendongak ke arah celah di bagian atas dinding.

Dan apa yang kulihat ketika itu mustahil kulupakan seumur hidup.
Sesosok wajah gelap, dengan rambut panjang yang kusut masai tampak mengintip dari celah dinding. Matanya melotot, senyumnya menyeringai. Ujung-ujung bibirnya yang tersenyum lebar itu nyaris menyentuh kedua ujung matanya. Ujung-ujung rambut kusutnya yang panjang itu nampak mengambang, atau berdiri, seperti leher kadal payung yang terbuka ketika takut atau marah.

Cukup tiga detik aku memandang sosok mengerikan itu, bulu kuduku berdiri tegak, dan rasa takut yang amat sangat langsung menyerang jiwa.

Tak tertahan lagi, aku menjerit. Sekencang-kencangnya. Tak peduli ada yang dengar atau tidak. Jeritan refleks itu pasti memekakkan telinga.

Badanku gemetar. Lalu dengan gerakan panik yang nyaris tak terkendali, aku menarik tas yang menggantung pada paku di pintu kamar mandi. Aku berusaha membuka kunci slot kamar mandi, namun tangan yang gemetar hebat membuatku kesulitan memegang gagang kunci yang begitu kecil. Belum lagi kunci yang memang agak rapat dan sulit digerakkan itu membuatku semakin panik. Tak terasa air mataku menetes karena panik dan takut.

Ketika kunci akhirnya terbuka aku membanting pintu kamar mandi sampai terbuka lalu mengambli langkah besar untuk berlari. Sayangnya, lantai kamar mandi yang kini basah membuatku kehilangan keseimbangan dan aku terjatuh tepat di depan bilik toilet tempat aku baru keluar. Lututku merah dan sakit. Tiga jari di tangankiriku sepertinya terkilir, nyeri. Aku bangkit sambil meringis, dan menangis.

Namun ketika aku bangkit, tak sengaja wajahku menengadah dan melihat ke arah pojok ruang kamar mandi. Di sana, di ujung sana, kulihat lagi sesosok makhluk, entah apa itu, berdiri tanpa gerak. Dilihat dari wajahnya, sepertinya itu sosok yang tadi mengintipku dari balik celah ventilasi dinding bilik toilet. Masih dengan ekspresi menyeringai yang sama seperti tadi. Aku menjerit lagi, rasa takutku bertambah-tambah.

Kini aku bangkit dengan sepenuh tenaga, lalu lari keluar dari kamar mandi. Namun sayang, sekali lagi aku terpeleset. Mungkin karena sepatuku yang basah dengan air yang tadi menggenang di kamar mandi. Lantai ubin tua koridor sekolah memang licin dan aku berlari tanpa terkendali. Akibatnya, aku limbung, tersungkur ke samping kanan. Kepalaku membentur bangku kayu di depan ruang tata usaha. Dan pandanganku gelap.

Pening. Itu yang kurasa sebelum kubuka mataku. Kesadaranku sepertinya berangsur pulih. Perlahan, kubuka pandanganku. Banyak orang berkerumun di sekitarku. Aku melirik ke kiri dan ke kanan. Sekilas kulihat lampu gantung besar dengan lampunya yang berkilau. Lalu kulihat wajah Fadel yang penuh kekhawatiran. Ada pula wajah Hisyam, ketua kelasku. Kulihat juga wajah Pak Dirman. Sisanya para siswa berkerudung, semuanya anggota remaja masjid. Ada Murni, teman sekelasku yang juga anggota remaja masjid, di situ. Sepertinya aku berada di teras masjid.

“Alhamdulilah, kamu udah siuman, Lia?” Itu suara Pak Mahmud, guru agama sekaligus pembina remaja masjid. “Ayo, jangan dikerumunin, kasih ruang supaya nggak pengap. Yang lain magriban dulu gih,” kata beliau mengusir para siswa yang penasaran dengan kondisiku.

Setelah para remaja masjid membubarkan diri, tinggal Pak Mahmud, Fadel dan Murni yang menjagaku. Aku berbaring dengan kepala di atas pangkuan Murni. Ketika aku berusaha bangun, Murni membantu menegakkan sandaranku.
“Kamu kenapa tadi, Lia?” tanya Pak Mahmud.

Aku terdiam sejenak. Tiba-tiba dalam bayanganku tampak lagi sosok menakutkan itu. Aku yang masih shock secara psikologis, tanpa sadar meneteskan air mata dan mulai menangis. Tangisan takut.
“Ya sudah, sudah, tenangkan dirimu dulu, ya,” kata Pak Mahmud lagi. “Murni sama Fadel, tolong jagain Lia dulu ya, bapak mau salat Magrib dulu.”
“Ya, pak,” jawab Fadel dan Murni kompak.

Setelah magrib selesai, jiwaku menjadi sedikit tenang. Fadel cerita bahwa ketika ia menunggu di parkiran motor, ia mendengar jeritanku yang kencang itu. Murni juga mengiyakan. Seluruh anggota remaja masjid yang sedang rapat pun mendengarnya. Hisyam yang segera keluar dari masjid dan yang pertama melihatku tergeletak di lantai koridor. Murni dan beberapa remaja masjid putri mengangkatku ke masjid. Fadel datang belakangan. Ketika aku akan dibawa ke dalam masjid, Fadel berkata bahwa aku sedang berhalangan, jadi jangan dibawa ke dalam masjid. Akhirnya, aku diistirahatkan di teras masjid.
Aku pun menceritakan apa yang baru saja kualami. Tentu dengan terbata-bata karena sambil menahan rasa takut dan shock yang masih membekas. Lalu, kagetnya aku ketika mendengar keterangan Mang Dirman bahwa beliau sudah menutup semua pintu ruangan sejak pukul 4 sore, seperti biasanya, namun memang belum dikunci.

Mang Dirman sedang berada di lantai tiga ketika aku menjerit. Ia sedang mengunci ruangan perpustakaan. Mendengar jeritan itu, ia langsung turun dan juga melihat aku yang sudah mulai digotong oleh para remaja masjid. Namun begitu, menurutnya pintu kamar mandi perempuan tertutup, lampunya mati, tidak ada bunyi air mengalir, tidak ada tanda-tanda bahwa kamar mandi baru saja digunakan. Padahal kuingat betul lampu kamar mandi menyala terang dan air mengalir dengan deras. Fadellah yang mengonfirmasi keteranganku bahwa kamar mandi perempuan memang terbuka. Berarti aku tidak berkhayal. Kejadian tadi nyata.

“Waduh, jangan-jangan yang Neng Lia liat tadi ….”
“Hus! Mang Dirman udah, jangan ngomong aneh-aneh,” potong Pak Mahmud. Beliau ingin Mang Dirman tidak melanjutkan omongannya. Di kepalaku, bermacam-macam pikiran tak jelas berseliweran.
“Lia, jangan ngelamun,” tegur Pak Mahmud.
“Oh, iya Pak ….” jawabku asal.

Melihat kondisiku yang belum stabil, Pak Mahmud akhirnya berinisiatif untuk mengantarkanku pulang. Tadinya aku berkeras ingin pulang bersama Fadel, namun karena takut di jalan kenapa-kenapa sementara Fadel mengendarai sepeda motor, Fadel pun setuju.
“Sekarang begini aja, Fadel dan Murni silakan pulang duluan, nanti biar bapak yang antarkan Lia ke rumahnya.”

Kulihat Fadel sepertinya menampakkan rasa enggan meninggalkanku. Aku juga sebenarnya masih enggan berpindah dari sini. Rasa syok itu masih melemahkan kakiku, tanganku, seluruh tubuhku. Namun begitu, aku akhirnya mengiyakan. Sekitar sepuluh menit kemudian, aku dibopong oleh Fadel dan Murni ke mobil Pak Mahmud. Beliau menyalakan mesin mobilnya lalu mengantarku pulang.
Sesampai di rumah, bapak dan ibu sudah menunggu dengan cemas. Mereka kaget melihatku datang bersama guru dalam keadaan lemas. Aku lantas dibawa ke kamar tidur dan dibiarkan istirahat, sambil ditemani adik laki-lakiku. Adikku bertanya ada apa denganku, namun aku enggan sekali menjawab, jadi aku tidak berkata apa-apa.

Pak Mahmud sementara itu bercerita di ruang tamu. Entah apa yang beliau ceritakan kepada kedua orang tuaku. Yang jelas, besoknya aku diberi izin istirahat sekitar dua hari. Ibu menemaniku sepanjang hari. Sementara sorenya, sebelum magrib, bapak memanggil Ustaz Jafar, guru mengajiku dulu di masjid dekat rumah. Pak Ustaz datang menjengukku, kemudian meminta ibu mengambil air dari dapur. Setelah air itu datang, beliau memejamkan mata, lalu mulutnya komat-kamit membaca doa entah apa. Setelah itu beliau memintaku untuk meminum air itu.

Kuteguk, kuteguk, kuteguk, dan sampai setengah gelas air itu turun ke kerongkonganku rasanya badan ini tiba-tiba menjadi panas. Sampai air itu habis, tiba-tiba aku mendengar sayup-sayup suara seperti perempuan yang menjerit, melengking, tapi seperti dari jauh. Aku bergidik, takut. Kubayangkan wajah sosok yang kutemui di WC perempuan sore itu.

Lalu aku menangis. Tangis ini aneh, seperti campuran rasa takut, sedih, sedikit lega, dan berterima kasih. Ibu memelukku. Lalu, Ustaz Jafar berkata, “Lain kali, sebelum masuk WC atau kamar mandi, jangan lupa berdoa, ya.” Beliau mengelus kepalaku, “‘‘Kan dulu kamu yang paling cepat hapal segala macam doa yang Ustaz ajarkan? Doa itu diamalkan, bukan cuma dihapalkan, oke?”

Monday, January 21, 2019

Mengganti IP Address dan Konfigurasi Alamat Jaringan (IP Address) Manual di MX Linux

January 21, 2019 Posted by Chief Editor , , No comments
Ketika sebuah komputer terkoneksi pada suatu jaringan konektivitas, komputer tersebut akan ditandai dengan suatu alamat jaringan yang bernama IP address. IP address bisa didapatkan secara otomatis (dan random) jika Anda mengoneksikan komputer dengan cara otomatis pula.

Namun begitu, pada beberapa jaringan tertentu—terutama jaringan yang sudah diatur jatah IP address-nya—adakalanya kita harus mengatur IP address komputer secara manual. Pengaturan IP address secara manual seperti itu biasanya untuk menghindarkan adanya konflik alamat IP dalam satu jaringan, serta untuk memudahkan identifikasi, organisasi, dan pelacakan lokasi fisik komputer yang bersangkutan.

Mengubah IP address atau memasang IP address secara manual di MX Linux juga tidak begitu sulit. Berikut ini langkah-langkah yang dilakukan untuk mengubah IP address atau mengonfigurasi/men-setting ulang IP address secara manual di sistem operasi MX Linux

1. Saya asumsikan, Anda sudah terkoneksi pada salah satu access point jaringan, baik itu jaringan kabel maupun jaringan wireless (wifi). Klik kanan Networking di panel kiri.

2. Dari menu yang muncul, klik pilihan Edit Connections ....

3. Akan muncul sebuah jendela Network Connections. Klik nama access point yang ingin diubah IP address-nya. Kemudian klik tombol Edit.

4. Selanjutnya, akan muncul jendela baru berjudul Editing blablabla dengan blablabla sebagai nama access point. Klik tab Ipv4 untuk membuka konfigurasi IP address.

5. Di tab Ipv4, ganti pilihan Method dari Automatic (DHCP) menjadi Manual. Selanjutnya, klik tombol Add.

6. Masukkan alamat IP address yang diinginkan pada tabel kolom Address. Tekan tombol Tab pada keyboard untuk pindah ke kolom Netmask, kemudian isikan angka 24. Lalu tekan tombol Tab lagi untuk berpindah ke kolom Gateway, kemudian masukkan alamat IP modem Anda.

7. Untuk DNS server, Anda bisa isikan alamat IP server DNS milik Google, yaitu 8.8.8.8. Saya sendiri menggunakan server Open DNS dengan alamat 208.67.222.222. Kotak Search Domains bisa dibiarkan kosong saja. Jangan lupa, klik Save!


8. Selesai! Kini, komputer Anda sudah memiliki alamat IP address yang paten dalam jaringan tersebut.
Powered by Blogger.