Live and Play

Saturday, April 13, 2019

[Cerpen] Mawar di Kamar Mandi Perempuan

April 13, 2019 Posted by Chief Editor No comments
Bel tanda pulang berdering keras. Siswa-siswi kelas XI IPS 2 menyambutnya dengan seruan “Yeeah” yang kompak. Mereka pasti senang karena akhirnya jam pelajaran Bahasa Inggris yang dipandu oleh Bu Lilis berakhir. Mereka juga pasti senang karena bisa segera pulang sementara aku tetap saja merasa jenuh karena sehabis ini aku harus ikut latihan tim paduan suara sekolah. Kami akan mengikuti lomba hari Minggu ini. Waktu tinggal tiga hari dan Bu Lilis masih belum puas dengan performa kami. Semua orang memang mengenal beliau sebagai seorang perfeksionis.

Sesungguhnya tak ada keinginan yang lebih kuat daripada bolos latihan hari ini. Kejenuhanku muncul gara-gara terus berlatih intens selama 2 jam nonstop setiap hari sejak seminggu yang lalu. Dan rasa jenuh itu bercampur dengan rasa tidak enak yang sedang menggerayangi tubuhku seharian ini. Mesti maklum, hari pertama tanggal merah tidak pernah nyaman bagi perempuan. Berbagai macam perasaan tidak enak muncul diikuti dengan ketidakstabilan emosi. Seringkali, kelabilan dan kesensitifan emosional itu diamplifikasi dengan perasaan tubuh yang tidak enak. Maka tolong jangan heran atau cepat-cepat ngegas ketika berkomunikasi dengan kami para hawa yang sedang menjalani hari-hari terlarang.

Namun apa daya, Bu Lilis yang kebetulan merupakan pelatih tim vocal grup kami adalah guru yang mengajar jam terakhir. Ia berpesan kepadaku agar segera ke ruang musik.

Selain aku, di kelas ini ada satu lagi anak anggota ekskul vocal group. Dia bernama Azaya. Kami bukan teman sebangku tapi kami sangat akrab sebab sudah saling kenal sejak bergabung dengan vocal group enam bulan yang lalu.

Aku dan Azaya meminta izin untuk makan siang dulu. Bu Lilis mengizinkan dan berpesan agar aku tidak berlama-lama. Bu Lilis meninggalkan kelas dan kami ke arah yang berlawanan. Aku dan Azaya membeli semangkok mi instan rebus lengkap dengan siomay goreng dan bakso. Minumnya teh botol dingin. Nikmat dunia.

Selanjutnya pas azan Asar kami beranjak ke masjid sekolah yang ukurannya lumayan megah. Masjid ini berlantai dua. Lantai satu dipakai salat sedangkan lantai dua biasanya dipakai remaja masjid untuk pengajian atau berkegiatan. Namun tiap Jumatan baik lantai satu ataupun dua digunakan untuk salat.

Azaya salat Asar sementara aku menunggunya di teras masjid. Aku sedang tidak bisa menunaikan salat, karena itu tadi, hari ini hari pertama tanggal merahku. Ikut salat hanya alasanku kepada Bu Lilis karena aku enggan datang cepat-cepat ke tempat latihan.

Selepas salat, kulihat anak-anak ikatan remaja masjid sekolah berkumpul. Ada Hisyam, ketua kelasku di situ. Iseng kutanya, ada acara apa. Hisyam menjawab bahwa mereka akan rapat tentang persiapan acara peringatan maulid.

Sehabis Azaya beres mengenakan kembali sepatunya kami beranjak ke ruang musik. Sekitar dua jam kami berlatih. Bagiku latihan ini kini menjemukan karena kami merasa bahwa nyanyian kami sebenarnya sudah bagus. Tetapi entah apa lagi yang diinginkan Bu Lilis. Ia berkali-kali mengganti aransemen dan teknik bernyanyi kami. Kadang menurut kami sudah bagus, menurut beliau tidak. Diubah lagi. Pernah suatu ketika, beliau mengubah aransemen yang sudah klop, setelah didengarnya berulang-ulang, ia kemudian mengubahnya kembali ke bentuk asal. Ya ampun, Ibu ....

Sepanjang latihan, separuh anggota tim berusaha menutupi kebosanannya dengan berusaha menyanyi sebaik-baiknya. Tapi rasa bosan memang sulit dibohongi. Akibatnya, aku sendiri menganggap nyanyian kami tadi sama sekali tidak layak dipertandingkan. Satu setengah jam seperti itu dan tanpa perubahan. Raut muka Bu Lilis memperlihatkan kebelumpuasan dan sedikit kekecewaan karena pada sesi latihan ini, menurutnya, nyanyian kami masih belum bagus.

Akhirnya, Bu Lilis menutup latihan kami hari ini dengan catatan bahwa kami masih harus berlatih besok. tiga perempat anggota tim paduan suara mengeluh kecil. latihan intens yang sudah berjalan satu minggu membuat kami jenuh. Kak Nazwa ketua ekskul kami yang biasanya paling semangat dan selalu mengingatkan kami untuk datang latihan bahkan sudah jengkel. Tadi siang aku sempat mencuri dengar bahwa ia sudah punya rencana berjalan-jalan bersama Kak Budi besok pasti dia kesal karena rencana nya gagal.

Dan sesungguhnya aku bisa memahami kekesalan dan kekecewaan Kak Nazwa karena aku dan Fadel juga sudah janjian untuk keluar besok sore. Fadel adalah teman dekatku. Aku berkenalan dengannya sejak hari-hari pendaftaran masuk sekolah. Dia anak yang baik, sering membantuku, dan siswa yang lumayan pintar. Dia sudah bersedia mengantarku ke Pasar Palasari besok untuk mencari novel sebagai bahan tugas bahasa Indonesia.

Sementara Bu Lilis menutup sesi latihan dengan pesan-pesan yang sudah tidak kupedulikan lagi karena pasti bicara hal yang sama dari kemarin, kulihat matahari di luar cahayanya semakin redup. Kunyalakan layar ponselku dan kulihat waktu menunjukkan pukul 5 sore. Para anggota paduan suara bubar meninggalkan ruang musik.

“Lin, kamu pulang sama Fadel lagi hari ini?”
“Iya, kami udah janjian,” jawabku
“Ya udah, kalo gitu, aku duluan, ya! Dadah, hati-hati di jalannya, yaa,” kata Azaya sambil senyum kecil.
“Iyaa,” jawabku asal.

Aku mengambil tas dan melangkah ke luar. Tepat di luar ruang musik, sudah ada Fadel yang sedang berdiri. Sepertinya dia sudah lama menungguku. Dia duduk santai pada bangku besi di koridor, membelakangi dinding pagar koridor lantai dua, sambil menatap layar ponselnya. Mungkin tadi dia sedang menonton film atau meramban web.

Sambil menutup pintu ruang musik aku berkata, ”Hai, Del, udah lama nunggunya?”

Fadel buru-buru mematikan layar ponselnya dan memasukkan ponsel itu ke dalam saku celananya lalu berkata, “Nggak kok, baru sepuluh menit. Sudah beres latihannya?”
“Iya, udah beres. Yuk!”

Kami lalu berjalan berdua di koridor lantai dua perlahan. Matahari sudah turun dari panggungnya. Jingga tumpah di tepian langit. Lampu koridor telah dinyalakan.

“Kayaknya capek juga ya jadi anak vocal group. Aku baru tahu kalau kalian sebelum lomba bisa intens begini. Kukira kalian setiap hari kerjaannya nyanyi-nyanyi saja,” Fadel berkomentar.
“Ya nggak, lah. Iya sih, biasanya kita emang santai-santai aja. Kalaupun ada latihan nyanyi, biasanya nyanyi bebas. Tapi kalau akan ada lomba sih lain cerita. Kalo mau juara ya harus rajin latihan,” balasku.

Inginnya kuhentikan kalimat itu di situ, tapi tak kuasa akhirnya kulanjutkan, “Besok juga seperti nya aku ada latihan lagi. Tadi Bu Lilis Tiba-tiba meminta kami untuk latihan lagi besok. Jadi seperti nya rencana kita untuk pergi ke Palasari harus batal.”

Mendengar itu, kulihat tersurat sedikit ekspresi kekecewaan di raut muka Fadel, tetapi ia menjawab, “Oh begitu …. Ya udah, nggak apa-apa. Lusa atau nanti juga nggak masalah.”
“Sori ya, Del, Bu Lilis emang suka dadakan begitu kalau bikin rencana,” kataku lagi. Fadel hanya mengangguk.

Kami yang sejenak kehilangan kata, menuruni tangga dari lantai dua ke lantai satu dengan canggung.
“Sori ya, Del. Aku nggak enak nih, udah ngajakin tapi malah ngebatalin,” ucapku.
“Udah, kan tadi udah kubilang nggak apa-apa, next time aja.”

Ketika langkah kaki kami sampai di lantai satu, suasana gelap dan sepi. Tinggal satu-dua anak yang masih ada di lapangan. Biasanya mereka dari ekskul basket atau siswa yang iseng menggunakan lapangan basket untuk bermain. Di seberang sana, lampu-lampu masjid sudah menyala terang. Para remaja masjid sepertinya masih berkumpul di sana. Mungkin akan sekalian salat magrib berjamaah.

Menyusuri koridor lantai satu, aku berpikir bahwa ternyata seremang-remangnya koridor lantai dua, lebih kelam lagi koridor lantai satu. Aku sudah mendengar berbagai macam cerita tentang kejadian aneh atau seram di sekolahku. Akan tetapi aku sebenarnya bukan orang yang percaya hal-hal seperti itu. Meskipun begitu, rasa takut secara alami muncul ketika kita mendapati suasana semacam ini.

Meskipun begitu, ada hal yang lebih penting daripada suasana seram sekolah. Hari ini hari pertama siklus menstruasiku. Sedari siang aku sebenarnya sudah merasa tidak nyaman. Kuputuskan aku akan berganti pembalut sebelum pulang.

Kebetulan, kami akan melewati toilet perempuan. Toilet ini terletak di sebelah ruang tata usaha dan ruang gudang sound system yang sudah terkunci rapat.

Sebenarnya agak aneh ketika kulihat pintu toilet ini terbuka lebar. Biasanya, semua ruangan di gedung sekolah, termasuk toilet, dikunci pada pukul 4 sore. Mang Dirman, petugas kebersihan sekaligus juru kunci sekolah akan hanya menyisakan toilet masjid agar tidak dikunci karena kuncinya dipegang oleh anak-anak remaja masjid. Kunci masjid sendiri seringkali dititipkan ke satpam. Dan satpam, setahuku, nyaris tidak pernah mengunci kamar mandi masjid. Pos satpam tidak dilengkapi toilet jadi satpam harus menumpang buang air di toilet masjid. Masjid juga biasanya digunakan oleh warga sekitar untuk salat Magrib dan Isya berjamaah jadi lebih baik dibiarkan tidak terkunci.

Aku sebenarnya merasa janggal juga, tumben sekali toilet perempuan lantai satu tidak dikunci. Akan tetapi, daripada harus menyeberang dua lapangan, basket dan voli, kemudian melepas sepatu karena harus menginjak lantai batas suci, “Bentar ya del aku mau ke kamar mandi dulu,” sambil berkata begitu kebetulan kami sampai di depan kamar mandi perempuan lantai satu.

“Mau ke mana Lia?”
“Toilet, Del.”
“Ngapain?”
“Ih kepo banget, sih. Urusan cewek lah, mau tahu aja,” jawabku ketus.
“Ooh ….” Ia sepertinya paham dengan istilah urusan cewek yang kumaksud. Akan tetapi, di balik kalimatnya yang menyiratkan kesepahaman itu, raut wajah Fadel agak janggal.
“Titip tas jaket, ya, Del,” kataku sambil menyerahkan sweaterku. Namun kulihat, ia memandang pintu kamar mandi perempuan yang saat itu terbuka lebar dengan sorot pandangan yang aneh. Dari dalam kamar mandi terdengar suara deras kucuran air yang sedang mengisi bak mandi.

“Lia, sori nih. Gimana kalo kamu pake kamar mandi masjid aja?”
“Lho, memang nya kenapa? Males ah, jauh. Ini ada yang dekat dan masih buka, kok malah cari yang jauh? Belum lagi harus buka sepatu, males ah, repot.”
“Tapi, kata orang-orang ….”
“Udah buruan sana, tungguin aku di parkiran aja,” belum sempat Fadel melanjutkan kalimatnya, sudah kupotong. Setelah itu aku mendorong Fadel untuk pergi duluan. Risih rasanya kalau aku ingin mengganti pembalut sambil ditunggui cowok di depan toilet perempuan pula. Lantas masuklah aku ke dalam kamar mandi perempuan.

Kamar mandi itu berbentuk memanjang ke dalam. Di dekat pintu ada sebuah wastafel keramik yang semua orang tau keran nya sudah tidak berfungsi. Ada tiga bilik toilet di dalam nya. Saat itu dua bilik paling ujung tertutup. Terdengar suara air dari balik kedua bilik. Aku masuk ke bilik paling depan. Air di dalam bilik itu pun mengalir kencang.

Aku mulai berbenah, mengganti yang harus aku ganti. Akan tetapi, tiba-tiba aku tersadar bahwa aku betul-betul lupa membawa kantong plastik.

“Waduh, masak iya dibuang begitu saja? ‘Kan jorok. Tetapi … Aduh, bagaimana ya …” pikirku dalam hati kebingungan. Maka dengan sangat terpaksa, aku membuka tas dan mengambil buku binder. Kusobek lima lembar kertas binder ukuran A5 yang masih kosong, membungkus pembalut bekas yang akan kubuang, lalu membuang bungkusan itu ke tempat sampah di samping jamban.

Setelah membuang sampah, aku mengambil timba di dalam bak mandi. Namun … “Lho, apa itu? Kembang?”

Hatiku tersentak ketika melihat sekuntum kembang mawar merah mengambang di permukaan air bak mandi, yang kerannya masih mengucur deras. Kenapa ada bunga mawar di situ? Dari mana datangnya?
Melihat kejanggalan ini, dalam hatiku tiba-tiba muncul rasa campur antara takut dan penasaran. Aku menciduk setimba air lalu menyiram jamban.

Lantas tiba-tiba muncul lagi satu kembang mawar. Kali ini kulihat sendiri mawar itu jatuh dari atas. Lebih tepatnya, kembang mawar itu muncul dari balik dinding bilik toilet di sebelah kiriku. Seolah-olah ada yang melemparkan mawar itu dari balik dinding bilik toilet.

Wah jangan-jangan orang yang sedang berada di bilik sebelahku ini jahil, begitu pikirku. Maka dengan spontan aku berkata dengan keras, “Hei, apaan sih maksudnya lempar-lempar mawar? Nyampah sembarangan kamu!” Aku berkata sambil mendongak ke arah celah dinding pembatas bilik antartoilet. Siapa tahu ada mawar lagi yang muncul dari arah celah itu.

Selang beberapa detik, jatuhlah sekuntum mawar lagi. Kali ini mawar itu datang dari dinding yang sedang kubelakangi. Mawar itu memantul di dinding pembatas toilet yang sedang kuhadapi. Refleks aku membalikkan badan kemudian mendongak ke arah celah di bagian atas dinding.

Dan apa yang kulihat ketika itu mustahil kulupakan seumur hidup.
Sesosok wajah gelap, dengan rambut panjang yang kusut masai tampak mengintip dari celah dinding. Matanya melotot, senyumnya menyeringai. Ujung-ujung bibirnya yang tersenyum lebar itu nyaris menyentuh kedua ujung matanya. Ujung-ujung rambut kusutnya yang panjang itu nampak mengambang, atau berdiri, seperti leher kadal payung yang terbuka ketika takut atau marah.

Cukup tiga detik aku memandang sosok mengerikan itu, bulu kuduku berdiri tegak, dan rasa takut yang amat sangat langsung menyerang jiwa.

Tak tertahan lagi, aku menjerit. Sekencang-kencangnya. Tak peduli ada yang dengar atau tidak. Jeritan refleks itu pasti memekakkan telinga.

Badanku gemetar. Lalu dengan gerakan panik yang nyaris tak terkendali, aku menarik tas yang menggantung pada paku di pintu kamar mandi. Aku berusaha membuka kunci slot kamar mandi, namun tangan yang gemetar hebat membuatku kesulitan memegang gagang kunci yang begitu kecil. Belum lagi kunci yang memang agak rapat dan sulit digerakkan itu membuatku semakin panik. Tak terasa air mataku menetes karena panik dan takut.

Ketika kunci akhirnya terbuka aku membanting pintu kamar mandi sampai terbuka lalu mengambli langkah besar untuk berlari. Sayangnya, lantai kamar mandi yang kini basah membuatku kehilangan keseimbangan dan aku terjatuh tepat di depan bilik toilet tempat aku baru keluar. Lututku merah dan sakit. Tiga jari di tangankiriku sepertinya terkilir, nyeri. Aku bangkit sambil meringis, dan menangis.

Namun ketika aku bangkit, tak sengaja wajahku menengadah dan melihat ke arah pojok ruang kamar mandi. Di sana, di ujung sana, kulihat lagi sesosok makhluk, entah apa itu, berdiri tanpa gerak. Dilihat dari wajahnya, sepertinya itu sosok yang tadi mengintipku dari balik celah ventilasi dinding bilik toilet. Masih dengan ekspresi menyeringai yang sama seperti tadi. Aku menjerit lagi, rasa takutku bertambah-tambah.

Kini aku bangkit dengan sepenuh tenaga, lalu lari keluar dari kamar mandi. Namun sayang, sekali lagi aku terpeleset. Mungkin karena sepatuku yang basah dengan air yang tadi menggenang di kamar mandi. Lantai ubin tua koridor sekolah memang licin dan aku berlari tanpa terkendali. Akibatnya, aku limbung, tersungkur ke samping kanan. Kepalaku membentur bangku kayu di depan ruang tata usaha. Dan pandanganku gelap.

Pening. Itu yang kurasa sebelum kubuka mataku. Kesadaranku sepertinya berangsur pulih. Perlahan, kubuka pandanganku. Banyak orang berkerumun di sekitarku. Aku melirik ke kiri dan ke kanan. Sekilas kulihat lampu gantung besar dengan lampunya yang berkilau. Lalu kulihat wajah Fadel yang penuh kekhawatiran. Ada pula wajah Hisyam, ketua kelasku. Kulihat juga wajah Pak Dirman. Sisanya para siswa berkerudung, semuanya anggota remaja masjid. Ada Murni, teman sekelasku yang juga anggota remaja masjid, di situ. Sepertinya aku berada di teras masjid.

“Alhamdulilah, kamu udah siuman, Lia?” Itu suara Pak Mahmud, guru agama sekaligus pembina remaja masjid. “Ayo, jangan dikerumunin, kasih ruang supaya nggak pengap. Yang lain magriban dulu gih,” kata beliau mengusir para siswa yang penasaran dengan kondisiku.

Setelah para remaja masjid membubarkan diri, tinggal Pak Mahmud, Fadel dan Murni yang menjagaku. Aku berbaring dengan kepala di atas pangkuan Murni. Ketika aku berusaha bangun, Murni membantu menegakkan sandaranku.
“Kamu kenapa tadi, Lia?” tanya Pak Mahmud.

Aku terdiam sejenak. Tiba-tiba dalam bayanganku tampak lagi sosok menakutkan itu. Aku yang masih shock secara psikologis, tanpa sadar meneteskan air mata dan mulai menangis. Tangisan takut.
“Ya sudah, sudah, tenangkan dirimu dulu, ya,” kata Pak Mahmud lagi. “Murni sama Fadel, tolong jagain Lia dulu ya, bapak mau salat Magrib dulu.”
“Ya, pak,” jawab Fadel dan Murni kompak.

Setelah magrib selesai, jiwaku menjadi sedikit tenang. Fadel cerita bahwa ketika ia menunggu di parkiran motor, ia mendengar jeritanku yang kencang itu. Murni juga mengiyakan. Seluruh anggota remaja masjid yang sedang rapat pun mendengarnya. Hisyam yang segera keluar dari masjid dan yang pertama melihatku tergeletak di lantai koridor. Murni dan beberapa remaja masjid putri mengangkatku ke masjid. Fadel datang belakangan. Ketika aku akan dibawa ke dalam masjid, Fadel berkata bahwa aku sedang berhalangan, jadi jangan dibawa ke dalam masjid. Akhirnya, aku diistirahatkan di teras masjid.
Aku pun menceritakan apa yang baru saja kualami. Tentu dengan terbata-bata karena sambil menahan rasa takut dan shock yang masih membekas. Lalu, kagetnya aku ketika mendengar keterangan Mang Dirman bahwa beliau sudah menutup semua pintu ruangan sejak pukul 4 sore, seperti biasanya, namun memang belum dikunci.

Mang Dirman sedang berada di lantai tiga ketika aku menjerit. Ia sedang mengunci ruangan perpustakaan. Mendengar jeritan itu, ia langsung turun dan juga melihat aku yang sudah mulai digotong oleh para remaja masjid. Namun begitu, menurutnya pintu kamar mandi perempuan tertutup, lampunya mati, tidak ada bunyi air mengalir, tidak ada tanda-tanda bahwa kamar mandi baru saja digunakan. Padahal kuingat betul lampu kamar mandi menyala terang dan air mengalir dengan deras. Fadellah yang mengonfirmasi keteranganku bahwa kamar mandi perempuan memang terbuka. Berarti aku tidak berkhayal. Kejadian tadi nyata.

“Waduh, jangan-jangan yang Neng Lia liat tadi ….”
“Hus! Mang Dirman udah, jangan ngomong aneh-aneh,” potong Pak Mahmud. Beliau ingin Mang Dirman tidak melanjutkan omongannya. Di kepalaku, bermacam-macam pikiran tak jelas berseliweran.
“Lia, jangan ngelamun,” tegur Pak Mahmud.
“Oh, iya Pak ….” jawabku asal.

Melihat kondisiku yang belum stabil, Pak Mahmud akhirnya berinisiatif untuk mengantarkanku pulang. Tadinya aku berkeras ingin pulang bersama Fadel, namun karena takut di jalan kenapa-kenapa sementara Fadel mengendarai sepeda motor, Fadel pun setuju.
“Sekarang begini aja, Fadel dan Murni silakan pulang duluan, nanti biar bapak yang antarkan Lia ke rumahnya.”

Kulihat Fadel sepertinya menampakkan rasa enggan meninggalkanku. Aku juga sebenarnya masih enggan berpindah dari sini. Rasa syok itu masih melemahkan kakiku, tanganku, seluruh tubuhku. Namun begitu, aku akhirnya mengiyakan. Sekitar sepuluh menit kemudian, aku dibopong oleh Fadel dan Murni ke mobil Pak Mahmud. Beliau menyalakan mesin mobilnya lalu mengantarku pulang.
Sesampai di rumah, bapak dan ibu sudah menunggu dengan cemas. Mereka kaget melihatku datang bersama guru dalam keadaan lemas. Aku lantas dibawa ke kamar tidur dan dibiarkan istirahat, sambil ditemani adik laki-lakiku. Adikku bertanya ada apa denganku, namun aku enggan sekali menjawab, jadi aku tidak berkata apa-apa.

Pak Mahmud sementara itu bercerita di ruang tamu. Entah apa yang beliau ceritakan kepada kedua orang tuaku. Yang jelas, besoknya aku diberi izin istirahat sekitar dua hari. Ibu menemaniku sepanjang hari. Sementara sorenya, sebelum magrib, bapak memanggil Ustaz Jafar, guru mengajiku dulu di masjid dekat rumah. Pak Ustaz datang menjengukku, kemudian meminta ibu mengambil air dari dapur. Setelah air itu datang, beliau memejamkan mata, lalu mulutnya komat-kamit membaca doa entah apa. Setelah itu beliau memintaku untuk meminum air itu.

Kuteguk, kuteguk, kuteguk, dan sampai setengah gelas air itu turun ke kerongkonganku rasanya badan ini tiba-tiba menjadi panas. Sampai air itu habis, tiba-tiba aku mendengar sayup-sayup suara seperti perempuan yang menjerit, melengking, tapi seperti dari jauh. Aku bergidik, takut. Kubayangkan wajah sosok yang kutemui di WC perempuan sore itu.

Lalu aku menangis. Tangis ini aneh, seperti campuran rasa takut, sedih, sedikit lega, dan berterima kasih. Ibu memelukku. Lalu, Ustaz Jafar berkata, “Lain kali, sebelum masuk WC atau kamar mandi, jangan lupa berdoa, ya.” Beliau mengelus kepalaku, “‘‘Kan dulu kamu yang paling cepat hapal segala macam doa yang Ustaz ajarkan? Doa itu diamalkan, bukan cuma dihapalkan, oke?”

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.